JAKARTA – Sejumlah anggota Komisi VIII DPR menyoroti insiden penusukan Syekh Ali Jaber saat ceramah di sebuah masjid di Bandar Lampung pada Minggu 13 September 2020. Mereka mendesak Menteri Agama Fachrul Razi bersikap terkait insiden itu.
“Saya ingin menyampaikan innalillahi wa innailaihi rojiun, atas musibah penikaman Syekh Ali Jaber, semoga kejadian kekerasan ini kejadian terakhir yang menimpa para ulama kita,” kata anggota Komisi VIII DPR Jefry Romdonny dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Menag Fachrul Razi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2020).
Baca Juga: Penusukan Syekh Ali Jaber, Keluarga Sebut Alpin Stres dan Gangguan Jiwa Sejak 2016
Politikus Partai Gerindra ini meminta agar Komisi VIII DPR dan juga Menag dapat memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. Sehingga, bisa lebih jelas mengenai apa kasusnya, apa motif dan tujuannya, serta siapa yang menjadi dalang dari insiden ini.
“Dan saya juga minta kepada Kemenag untuk aktif memberikan perlindungan kepada ulama dari teror dan kekerasan sehingga kejadian seperti tadi tidak terulang karena ulama merupakan aset bangsa dan juga perekat bangsa,” ujarnya.
Kemudian, anggota Komisi VIII DPR Nurhasan melihat bahwa apa yang terjadi kepada Syekh Ali Jaber ini merupakan logika terbalik dari apa yang disampaikan Menag terkait radikalisme. Justru Syekh Ali Jaber yang hafal Quran yang diserang oleh orang yang terpapar radikalisme.
“Ternyata kan terbukti, terbukti terbalik, jadi justru ulama yang yang hafal Alquran dihajar sama radikalisme,” ujarnya di kesempatan sama.
Legislator Dapil Jawa Barat IX ini mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Tokoh Agama dan Simbol Agama ini perlu menjadi prioritas Komisi VIII bersama dengan Kemenag.
“Saya usul pak menteri udah beri isyarat, kemudian ini juga relevan dengan UU Perlindungan Tokoh Agama dan Simbol Agama yang jadi prolegnas di DPR, jadi bahasnya sama Kementerian Agama, ini jadi prioritas,” usul Nurhasan.
Baca Juga: Penusukan Syekh Ali Jaber, Alpin Tersangka Penganiayaan Berat
Anggota Komisi VIII DPR Hidayat Nur Wahid juga menyindir Menag mengenai penyebar radikalisme orang yang good looking, hafal Alquran dan pandai berbahasa Arab. Tapi justru Syekh Ali Jaber yang memiliki penampilan good looking, hafal Alquran dan pandai berbahasa Arab justru menjadi korban aksi radikalisme.
Hidayat pun yakin bahwa pelaku penyerang Syekh Ali Jaber itu bukanlah orang yang memiliki gangguan jiwa.
“Kawan-kawan sudah menyampaikan tentang kasus radikalisme dan teror terhadap ustadz, penceramah dan dai, beliau yang sangat pandai berbahasa Arab, hafal Alquran, good looking dan aktif di masjid tapi justru beliau yang menjadi korban radikalisme dari orang yang saya yakin tidak gila,” katanya secara virtual dalam Raker.
Ia menyayangkan karena publik sesungguhnya menunggu pernyataan Menag, bahkan Menko Polhukam Mahfud MD menyampaikan pernyataan yang menyejukkan dan sangat empatik. Memang, Menag sudah menyampaikan lewat Direktur Penerangan Islam Juraidi Malkan tetapi, seharusnya ini momentum Menag Fachrul untuk menunjukkan komitmennya untuk melindungi umat, mengayomi umat dan para ustad yang moderat dan mendukung pemerintah.
“Tapi kita belum mendengar pernyataan dari pak menteri tapi justru keduluan pak Menko Polhukam. Pak menteri saya berharap ini bisa dihadirkan menajdi suatu hal umat ada yang melindungi, umat ada yang mengayomi para ulama dan dai kita yang moderat terlindungi dari segala bentuk radikalisme dan teror,” harapnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.