Di segmen Siberut dan Sipora-Pagai, berdasar penetilian Danny Hilman dan Prof Kerry Sieh dari Amerika diketahui periode ulang gempa itu 200 tahunan sampai 300 tahun sekali.
“Nah, yang segmen Sipora Pagai itu sudah terjadi periode ulang, dulu terjadi tahun 1833 dengan kekuatan sekitar 8,8 SR atau 8,9 SR dan saat itu timbul tsunami, kemudian terulang periode ulang itu dimulai 12 September 2007 saat itu menjelang puasa atau menjelang tarawih pertama 8,4 SR, besoknya tanggal 13 September terjadi dua kali gempa 7,2 SR dan 7,9 SR, itu kategorinya kuat. Lalu ternyata berakhirnya 25 Oktober 2010 yang terjadi tsunami ketika itu yang episentrumnya di Barat Daya Pulau Pagai,” katanya.
Gempa-gempa yang terjadi sejak 10 Oktober kemarin sampai hari ini episentrumnya lokasi terjadinya tsunami pada 25 Oktober 2010 yang lalu.
“Nah, menurut saya, gempa-gempa di segmen Sipora Pagai ini tidak mengkhawatirkan karena energi besarnya sudah lepas, kalau terulang lagi gempa besar itu 200 tahun lagi kecuali gempa-gempa kecil, jadi di segmen ini Insyaallah setidak-tidaknya dalam 100 tahun ini tidak akan terjadi gempa di atas 7, kalau 5, 4, 3 SR itu biasa karena dia terus terjadi tumbukan lempeng, energi terus terhimpun dan terus terakumulasi jadi ini tidak mengkhawatirkan,” jelasnya.
Yang perlu diwaspadai, kata Badrul, segmen Siberut karena 2/3 energinya belum keluar, jika keluar dalam satu kali gempa besar bisa menimbulkan gempa M=8,5 atau lebih. Jadi yang terjadi gempa di Pagai Selatan kemarin itu tidak akan terjadi gempa besar.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.