Bosan Belajar Online Picu Siswi SMP di Lombok Menikah Dini

Ema Widiawati, iNews · Jum'at 30 Oktober 2020 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 30 340 2301603 bosan-belajar-online-picu-siswi-smp-di-lombok-menikah-dini-NSOJ4ZQzgA.jpg Safrudin dan Ebi Silviana menikah dini (Foto: iNews)

LOMBOK TENGAH - Pernikahan dini kembali terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Pengantin wanita yang saat ini berstatus siswa SMP mengaku bosan belajar secara online hingga memutuskan untuk menikah di usia yang masih tergolong anak-anak tersebut.

Kasus pernikahan anak nyatanya hingga kini belum juga dapat dikendalikan, setelah beberapa anak sekolah yang viral lantaran menikah di usia dini, kini di Kabupaten Lombok Tengah kembali dihebohkan dengan pernikahan dua orang anak sekolah, yaitu Safrudin (17), asal Kumbak Dalam, Desa Stiling dan Ebi Silviana (15) asal Desa Aiq Berik, Kecamatan Batu Kliang Utara, Lombok Tengah.

Menurut pengakuan Ebi, keputusannya menikah di usianya yang saat ini masih menginjak bangku kelas 3 SMP lantaran bosan belajar secara online di rumah sejak pendemi Covid-19.  "Bosan belajar online. Gak punya HP," ujar pengantin wanita, Ebi Silviana.

Baca Juga: 148 Siswa Menikah di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Tanggapan Kemendikbud

Sementara itu, menurut pengakuan Kadus setempat, kedua pengantin tersebut telah dimediasi untuk menunda pernikahan lantaran usia yang masih di bawah umur, namun keduanya tetap memilih untuk menikah.

"Pertama, karena sistem sekolah sekrang kan tidak langsung, kemudian anak-anak sekarang dibebaskan pegang ponsel. Itu dua penyebab menurut saya yang menyebabkan banyak terjadi pernikahan dini," ujar Kadus Kumbak Dalam Abdul Hanan.

Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah, Moh. Nazili, menjelaskan hal ini menjadi atensi semua pihak, terutama dengan alasan bosan belajar di rumah. Nazili menjelaskan, sebagai langkah memberikan efek jera, sekolah dan komite telah berinisiatif agar anak sekolah yang menikah dikenakan denda, salah satunya denda berbentuk uang Rp2 hingga Rp5 juta.

Baca Juga: Perkawinan Anak di Indonesia Capai 193 Ribu Kasus 

Meski menikah secara sah menurut agama, namun karena penikahan tersebut di bawah umur maka pernikahan Ebi dan Safrudi tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini