Share

Beroperasi 14 Tahun, Klinik Aborsi di Pandeglang Telah Layani 100 Pasien

Mahesa Apriandi, iNews · Selasa 03 November 2020 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 340 2303361 beroperasi-14-tahun-klinik-aborsi-di-pandeglang-telah-layani-100-pasien-dPvX5JW3PI.jpg Polda Banten rilis pengungkapan klinik aborsi ilegal. (Foto : Mahesa)

SERANG – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten membongkar praktik aborsi di Klinik Sejahtera milik bidan NN (53) yang berada di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang. Klinik tersebut sudah melayani praktik aborsi sejak 2006.

“Saat ini 3 tersangka yang kita amankan yaitu bidan NN (53), perawat E (38), dan pasien Ry (23). Mereka kita tetapkan sebagai tersangka. Pengakuannya sudah 100 pasien yang sudah ditangani. Jadi kurang lebih sudah 14 tahun beroperasi,” kata Dirkrimsus Polda Banten, Kombes Nunung Syaifudin, Selasa (3/11/2020).

Pengelola klinik tersebut memang cukup lihai melakukan penyamaran sehingga masyarakat tidak mengetahui tempat tersebut melakukan praktik aborsi ilegal. Berdasarkan penyelidikan, rata-rata pasien merupakan pasangan yang memiliki hubungan di luar nikah.

“Barang bukti yang diamankan 1 buah sendok curet, 1 spiculum, satu tena culum, 1 jarum suntik, satu meja genokologi, 2 instrumen baskom stainus, satu botol obat injeksi sidiadryl, 1 botol injeksi metamidon, satu strip obat amoxcilin tryhidrade, satu strip obat mefenamic acid, dan uang tunai Rp2,5 juta,” ujarnya.

Polda Banten rilis pengungkapan klinik yang melayani aborsi. (Foto : Sindonews/Mahesa)

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Edi Sumardi mengatakan, terbongkarnya praktik aborsi tersebut bermula dari kecurigaan warga. Petugas yang mendapatkan informasi tersebut kemudian menemukan dua orang dari klinik tersebut yakni pria berinisial WS dan perempuan berinisial RY yang merupakan warga Kota Serang. RY yang berada di pekarangan klinik terhuyung-huyung diduga baru saja menggugurkan kandungan di Klinik Sejahtera.

Kepada petugas yang menginterogasi keduanya mengakui telah mengaborsi bayi. Penyidik kemudian mendatangi bidan dan asistennya. Keduanya mengakui baru saja mengaborsi salah satu pasiennya. Kepada pasiennya, bidan NN memasang tarif Rp2,5 juta.

“Menurut keterangan tersangka sudah menjalankan praktik beberapa tahun. Motifnya mencari keuntungan dengan menggunakan rumah plus klinik untuk melakukan praktik kedokteran ilegal berisiko kematian,” ujarnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

RY mengaku tidak menghendaki lahirnya bayi dari kandungannya. “Kuat dugaan bayi dalam kandungan ini hasil hubungan gelap yang tidak diinginkan oleh kedua orang tersangka,” kata dia.

Selain itu, petugas menetapkan E selaku asisten bidan NN sebagai tersangka. Akibat peristiwa tersebut, bidan NN diancam Pasal 194 Jo pasal 73 (2) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda Rp1 miliar. “Pelaku yang menggugurkan,” katanya.

Baca Juga : Polisi Tangkap Bidan yang Membuka Praktik Aborsi

Sementara tersangka RY yang menggugurkan kandungan diancam Pasal 346 dan atau pasal 348 (1) KUHPidana Jo Psl 55 (1) ke 1 KUHPidana. “Paling lama 5 tahun penjara,” ucapnya.

Saat ini proses penyelidikan masih berlanjut yang bersangkutan ditahan di Polda Banten.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini