Jika Trump terpilih kembali, dia mungkin ingin memulai kembali hubungan dengan Pyongyang, baik untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah domestik ataupun untuk mencapai kesepakatan yang lebih konklusif dengan Pyongyang.
"Trump akan termotivasi untuk mencoba menyelesaikan krisis dengan Korea Utara. Preseden sejarah menunjukkan bahwa presiden periode kedua cenderung fokus untuk membangun pencapaian mereka sendiri," kata Seo Jung-kun, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kyung Hee di Seoul.
Jika Biden menang, pemerintahan Kore Selatan mungkin ingin mengarahkan presiden baru tersebut kembali ke kebijakan era Obama, yang berarti menunggu Korea Utara secara sukarela berkomitmen untuk denuklirisasi. Meskipun, kaum liberal Korea Selatan mengkritik kebijakan tersebut sebagai pasif dan tidak produktif, dengan berpendapat bahwa hanya keterlibatan proaktif yang akan membuat Korea Utara berubah.
Anggota parlemen Partai Demokrat Song Young-gil, yang merupakan ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Unifikasi Majelis Nasional, mengatakan jika Biden terpilih, Korea Selatan harus berusaha memainkan peran untuk memfasilitasi dialog antara Washington dan Pyongyang.
"Ini adalah pemilihan untuk menentukan apakah AS melakukan transisi bersejarah kembali ke liberalisme, hak asasi manusia dan nilai-nilai aliansi dengan Biden, atau tetap terisolasi dengan Trump," tulis Kim Soon-deok, kolumnis surat kabar Donga Ilbo. (mrt)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.