Menebak Hubungan Amerika-Korea Utara Pasca-Pemilu AS

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Rabu 04 November 2020 14:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 04 18 2304057 menebak-hubungan-amerika-korea-utara-pasca-pemilu-as-1rVG67r9uN.jpg Korea Utara-Amerika. (Foto: Reuters)

SEOUL - Salah orang yang saat ini tengah menunggu hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) adalah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Hasil pemilu, akan menentukan apakah hubungan Korea Utara dan Amerika berakhir atau kembali ke jalur negosiasi.

Korea Utara pun tidak banyak mengeluarkan statement sejak mengadakan parade militer besar awal bulan ini, kala dia memamerkan rudal balistik antarbenua baru, di antara perangkat keras lainnya.

Terlepas dari apakah Presiden Donald Trump atau kandidat Partai Demokrat Joe Biden pada akhirnya menang, Korea Utara harus mengatasi serangkaian tantangan yang sudah dikenal dalam hubungannya dengan Washington.

"Pyongyang menghadapi keseimbangan yang sulit, karena mereka ingin mendapatkan perhatian Washington dan membuat AS terlibat lagi, tetapi mereka tidak ingin melakukan sesuatu yang begitu agresif, sehingga mempersempit pilihan yang dimiliki oleh presiden baru terpilih," tutur Clint Work, seorang peneliti di Security for a New Century di Stimson Center di Washington seperti dilansir dari Nikkei Asia.

Di bawah Trump, AS mengadakan pertemuan pertamanya dengan Korea Utara. Trump pun menjadi pemimpin Amerika pertama yang menginjakkan kaki di negara tersebut. Dia pun membanggakan hubungannya yang saling menghormati dengan Kim.

Dari diplomasi itu, memang tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat atau perubahan mendasar lainnya pada hubungan antagonis Washington dan Pyongyang, yang berasal dari Perang Korea 1950-1953. Meskipun belum menguji senjata nuklir sejak 2017, Korea Utara juga belum menyerahkan persenjataan atomnya.

Sementara jika Biden menang, berarti pemimpin Korea Utara dapat bersiap untuk terlibat dengan presiden AS yang jauh lebih konvensional daripada Trump.

Biden adalah kandidat Demokrat yang menjabat sebagai wakil presiden pada era Barack Obama, yang melakukan pendekatan lepas tangan ke Korea Utara. Kemenangan Biden dapat berarti mengakhiri diplomasi, terutama di tengah krisis ekonomi dan kesehatan masyarakat AS yang besar.

"Penting bagi Biden untuk mengirim semacam sinyal awal ke Pyongyang bahwa dia berurusan dengan masalah domestik dan tidak dapat segera terlibat. Tidak harus berupa 'surat cinta', tetapi dia mungkin mendapat manfaat dari mengirimkan komunikasi pemimpin ke pemimpin, jika secara pribadi," kata Work.

Jika Trump terpilih kembali, dia mungkin ingin memulai kembali hubungan dengan Pyongyang, baik untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah domestik ataupun untuk mencapai kesepakatan yang lebih konklusif dengan Pyongyang.

"Trump akan termotivasi untuk mencoba menyelesaikan krisis dengan Korea Utara. Preseden sejarah menunjukkan bahwa presiden periode kedua cenderung fokus untuk membangun pencapaian mereka sendiri," kata Seo Jung-kun, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kyung Hee di Seoul.

Jika Biden menang, pemerintahan Kore Selatan mungkin ingin mengarahkan presiden baru tersebut kembali ke kebijakan era Obama, yang berarti menunggu Korea Utara secara sukarela berkomitmen untuk denuklirisasi. Meskipun, kaum liberal Korea Selatan mengkritik kebijakan tersebut sebagai pasif dan tidak produktif, dengan berpendapat bahwa hanya keterlibatan proaktif yang akan membuat Korea Utara berubah.

Anggota parlemen Partai Demokrat Song Young-gil, yang merupakan ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Unifikasi Majelis Nasional, mengatakan jika Biden terpilih, Korea Selatan harus berusaha memainkan peran untuk memfasilitasi dialog antara Washington dan Pyongyang.

"Ini adalah pemilihan untuk menentukan apakah AS melakukan transisi bersejarah kembali ke liberalisme, hak asasi manusia dan nilai-nilai aliansi dengan Biden, atau tetap terisolasi dengan Trump," tulis Kim Soon-deok, kolumnis surat kabar Donga Ilbo. (mrt)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini