Salut, Para Pemilik Rumah ini Tidak Takut Membiarkan Orang Asing Tinggal di Rumahnya

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 19 November 2020 15:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 18 2312413 salut-para-pemilik-rumah-ini-tidak-takut-membiarkan-orang-asing-tinggal-di-rumahnya-ZZKnAETzcG.jpg Foto: Okezone

INGGRIS - Semua orang akan berfikir ulang hingga ribuan kali untuk “membukakan pintu rumah" bagi orang asing.

Tapi tidak dengan beberapa orang ini di Inggris ini. Rachel Mantell berani membukakan pintu dalam arti luas. Dia mengizinkan orang asing masuk ke rumah dan tinggal bersamanya.

Dia menerima seorang pengungsi, pemuda asal Suriah Hassan Akkad yang berusia 20 tahun-an untuk tinggal bersamanya, suami Chris Swales, 48, dan putra mereka bernama Joe. Orang ini tidak menyewa, tapi tinggal dengan gratis.

“Saya ingat saya pernah berpikir, jika menakutkan bagi saya, ketika saya memiliki rumah sendiri dan berbicara bahasa Inggris, ketika saya memahami bagaimana keadaan di negara ini, bagaimana perasaannya?,” terangnya.

“Dia telah diberi alamat di London Selatan dan disuruh mengetuk pintu, bahwa seseorang di sana akan baik padanya. Itu adalah posisi yang rentan. Kekhawatiran saya tentang apakah kami memiliki antrian untuk mandi terasa sangat konyol jika dibandingkan. Dia hanyalah seorang manusia, yang hanya memiliki keberuntungan yang berbeda untuk Anda atau saya,” tambahnya. Lima tahun kemudian, Rachel telah menampung delapan pengungsi lagi.

(Baca juga: Penelitian Terbaru, Masker Hanya Beri Manfaat Terbatas)

Rachel mengatakan dulu Hassan seperti orang kebanyakan. Dia hidup secara mandiri bersama teman-temannya. Dia menjalani kehidupan kelas menengah di Damaskus, bekerja sebagai guru dan produksi televisi, sebelum ditangkap dan disiksa setelah berbicara menentang presiden otoriter negara itu, Bashar al-Assad.

Merasa putus asa, dia melarikan diri pada tahun 2013, memulai perjalanan sejauh 3.000 mil selama 87 hari melintasi Timur Tengah dan Eropa. Perjalanannya ini sangat membahayakan karena dia menggunakan kapal dari Turki ke Yunani, dan dua bulan tinggal di Calais yang terkenal kejam, tempat ribuan pencari suaka tinggal di tenda.

Akhirnya, pada 2015, Hassan naik penerbangan dari Brussels ke Heathrow dengan paspor Bulgaria palsu, mencari suaka di Inggris. Dia memenangkan status pengungsi baru-baru ini. Diperlukan waktu sekitar enam bulan bagi pencari suaka untuk mendapatkan status pengungsi setelah tiba di Inggris. Pelamar biasanya bisa bekerja hanya jika sudah diberi status pengungsi.

“Tapi ketika Anda membesarkan seorang anak, Anda memercayai orang asing, dari pengasuh anak hingga guru, dengan mereka sepanjang waktu. Itu sama dengan kondisi ini. Bedanya orang asing ini tingal bersama kita juga,” ujar Rachel, dikutip Daily Mail.

“Kami sangat beruntung dengan rumah besar di Brixton - semi dengan empat kamar tidur. Rasanya tidak adil untuk tidak membagikan keberuntungan kami,” tambahnya.

Rachel juga menerima pengungsi pasangan yang berasal dari Eritrea, yang baru memiliki bayi berusia enam minggu saat tiba pada 2017. Baru-baru ini dia juga menerima pengungsi anak laki laki yang diketahui suka tidur di makam dari wilayah Eritrea.

Sikap mulia Rachel juga dilakukan pesepakbola Gary Lineker. Dia mengungkapkan bagaimana dia menampung seorang pengungsi selama sebulan di mansion Surrey senilai 4 juta poundsterling.

Pesepakbola berusia 59 tahun itu mengkritik tanggapan Pemerintah terhadap krisis migran. Banyak orang yang mempertanyakan keputusannya itu.

Semua yang dilakukan mereka ini berasal dari gagasan dari Sara Nathan, 64, dan suaminya Malcolm Singer, 67, “Refugees At Home”, yang didiriakn pada 2015. Mereka membuat gerakan ini karena tidak menemukan ada yang seperti itu di Inggris.

Keluarga Sara memiliki sejarah membantu pengungsi. Kakek neneknya membawa seorang anak laki-laki “Kindertransport”, yakni salah satu dari 10.000 anak yang sebagian besar adalah Yahudi yang diselamatkan dari Nazi sebelum Perang Dunia II.

Saat ini, mereka memiliki hampir 900 pemilik rumah yang rela menamping para pengungsi di rumahnya. Secara total, para pemilik rumah ini telah menampung 2.300 pengungsi selama sekitar 175.000 malam selama lima tahun terakhir. Adapun pemilik rumah termuda baru berusia 18 tahun sedangkan yang tertua 93 tahun. Semua pengungsi diperiksa dan dirujuk oleh badan amal terkemuka lainnya, termasuk The Refugee Council atau Palang Merah.

Dari jumlah itu, hanya ada dua pemilik rumah yang memiliki masalah dengan pengungsi yang ditampung di rumah mereka. Yakni pengungsi mengambil jam alarm ketika dia pindah, karena menurutnya itu diberikan sebagai hadiah, bukan pinjaman.

Lalu, pengungsi yang mengambil kartu kredit pemilik rumah dan membelanjakan 100 poundsterling (Rp1,8 juta). Kendati demikian, Sara menegaskan kebanyakan para pengungsi yang tinggal sangat taat hukum.

“Tamu kami sangat taat hukum. Mereka telah melarikan diri dari rezim, perang, atau penganiayaan yang mengerikan. Hal terakhir yang mereka inginkan adalah tidak mendapat masalah di sini dan dideportasi,” terangnya.

“Status pengungsi hanya diberikan kepada mereka yang sangat takut akan hukum. Mereka memiliki status tersebut hingga lima tahun sebelum mereka dapat mengajukan cuti tanpa batas untuk tetap tinggal. Hanya beberapa saat setelah itu mereka dapat mengajukan permohonan kewarganegaraan. Dengan catatan kriminal, itu tidak mungkin diberikan,” tambahnya.

Sara dan suaminya Malcolm memiliki dua anak yang sudah dewasa. Saat anak-anak pindah keluar rumah, mereka memutuskan untuk membantu para pengungsi. Sejak itu, mereka memiliki 22 tamu dari seluruh dunia. Yang pertama tiba pada 23 Desember 2016.

Seharusnya pada Maret lalu, Sara dan suaminya menerima pengungsi bernama Moha, 39, yang berasal dari Mesir. Namun rencana ini gagal karena “lockdown” dilakukan di Inggris.

Hal serupa dilakukan dokter kandungan dan ginekolog di rumah sakit NHS, Dr Rosie Townsend, 34. Dengan senang hati dia berbagi flat dua kamar tidur di London Selatan selama pandemi dengan pencari suaka bernama Abdil, seorang siswa matematika yang melarikan diri dari kekerasan di Ethiopia.

Tamu pertama Rosie, seorang pria berusia 22 tahun yang melarikan diri dari Maroko setelah sang ayah mencoba membunuhnya. Dia tinggal selama dua bulan sementara dokumennya diproses.

Beberapa tuan rumah harus berjuang untuk menaklukkan kegelisahan mereka tentang itu semua. Seperti yang dilakukan Niki Groom, 44, ilustrator dari Bristol, yang mengajukan diri sebagai tuan rumah darurat, setelah bertugas di kamp pengungsian di Calais pada 2017. Tamu pertamanya berasal dari Ghana sekitar tiga tahun lalu.

Seperti diketahui, situasi ini sangat kontroversial karena memicu perasaan yang saling bertentangan di antara publik Inggris. Hingga Juni 2020, tercatat ada 32.423 aplikasi suaka di Inggris. Lebih dari 7.400 orang naik perahu kecil untuk menyeberangi Selat Inggris pada tahun ini. Perjalanan ini telah menelan korban enam orang, termasuk sebuah keluarga muda, dengan tiga anak berusia sembilan, enam, dan seorang bayi berusia 15 bulan, pada bulan lalu.

Namun saat ini, wanita lajang, mereka yang memiliki anak kecil, bahkan pensiunan berusia 90-an, semuanya bersedia membuka pintu bagi pengungsi.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini