Pandemi Covid-19 Perburuk Momok Kekerasan Seksual

Susi Susanti, Koran SI · Senin 23 November 2020 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 18 2314531 pandemi-covid-19-perburuk-momok-kekerasan-seksual-8vkGzoJJ8w.jpeg Foto: Shutterstock

PARIS - Tidak ada negara yang terhindar dari epidemi Covid-19. Pandemi ini juga yang menyebabkan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin melonjak drastis.

Sebut saja lonnjakan kasus pemerkosaan di Nigeria dan Afrika Selatan hingga peningkatan jumlah wanita yang hilang di Peru, angka pembunuhan wanita yang lebih tinggi di Brasil, Meksiko, hingga di Eropa. Pandemi telah memperburuk momok kekerasan seksual.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), “lockdown”, telah menyebabkan peningkatan laporan kekerasan dalam rumah tangga sebesar 25 persen di Argentina, 30 persen di Siprus dan Prancis, serta 33 persen di Singapura.

Pada dasarnya di semua negara, langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus corona telah mengakibatkan perempuan dan anak-anak harus tetap tinggal di rumah. Padahal rumah ini belum “tentu aman” bagi mereka.

(Baca juga: Tak Menyerah Meski Derita Leukimia, Bocah Ini Berjalan 124 Km Kumpulkan Amal)

“Rumah itu adalah tempat paling berbahaya bagi wanita,” kata asosiasi Maroko pada April lalu ketika mereka mendesak pihak berwenang untuk tanggap darurat, dikutip AFP.

Misalkan di India, Heena, 33, - bukan nama sebenarnya - seorang juru masak yang tinggal di Mumbai, mengatakan dia merasa “terjebak” di rumahnya sendiri dengan suami yang tidak bekerja, mengonsumsi obat-obatan terlarang dan melakukan kekerasan.

Pada 15 Agustus lalu, sang suami memukuli dirinya lebih buruk dari sebelumnya, di depan putra mereka yang berusia tujuh tahun. Dia pun diusir dari rumah pada pukul 3 pagi waktu setempat.

“Aku tidak punya tempat tujuan. Saya hampir tidak bisa menggerakkan tubuh saya - dia memukul saya sampai hancur, tubuh saya bengkak,” terangnya.

Alih-alih melapor ke polisi, dia malah menuju ke rumah temannya dan kemudian ke orang tuanya.

Saat ini dia sedang berjuang untuk hak asuh putranya, namun pengadilan tidak bekerja dalam kapasitas penuh karena pandemi Covid-19. Dia tidak bisa melihat putranya dalam empat bulan, namun dia berhasil meneleponnya secara diam-diam.

Sementara itu, Hanaa Edwar dari Jaringan Wanita Irak mengatakan telah terjadi kemerosotan berbahaya dalam situasi sosial ekonomi bagi keluarga setelah “lockdown”, dengan lebih banyak keluarga jatuh miskin, yang menyebabkan reaksi kekerasan.

Sedangkan Forum Brasil untuk Keamanan Publik, mencatat 648 pembunuhan wanita di paruh pertama tahun ini terjadi di Brasil. Angka ini naik dari periode yang sama di tahun lalu.

Meskipun pemerintah telah meluncurkan kampanye untuk mendorong perempuan untuk mengajukan pengaduan, namun forum tersebut mengatakan bahwa langkah-langkah yang dirancang untuk membantu para korban masih belum cukup.

Di seluruh dunia, PBB mengatakan hanya satu dari delapan negara yang telah mengambil tindakan untuk mengurangi dampak pandemi pada wanita dan anak-anak.

Seperti di Spanyol. Di sini para para korban secara diam-diam bisa meminta bantuan di apotek dengan menggunakan kode “masker-19”. Lalu beberapa asosiasi Prancis mendirikan titik kontak di supermarket.

“Para wanita yang datang kepada kami berada dalam situasi yang tak tertahankan, berbahaya,” terang Direktur sebuah asosiasi yang bekerja di sebuah pusat perbelanjaan dekat Paris, Sophie Cartron.

“Lockdown membuat dinding semakin hening,” tambahnya.

Adapun rencana mobilisasi pada 25 November, tepat di Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan masih belum pasti karena pembatasan terkait dengan pandemi Covid-19. Adapun pawai untuk hak-hak perempuan baru-baru ini terjadi di Kosta Rika, Guatemala, Liberia, Namibia dan Rumania.

“Kami tidak bisa berdemonstrasi untuk mengungkapkan kemarahan kami, atau berbaris bersama. Tapi kami akan membuat diri kami didengar semua sama, secara virtual dan visual,” kata kelompok Keluarga Berencana yang berbasis di Paris.

Di sisi lain, Tamara Mathebula dari Komisi Afrika Selatan untuk Kesetaraan Gender menggambarkan “maskulinitas beracun” saat ini bisa terjadi dimanapun kita berada.

“Ada kesenjangan upah gender yang melebar dan terus melebar selama pandemi COVID-19,” katanya. Akibatnya, “kekerasan berbasis gender” semakin memburuk. Konsekuensinya pun akan lebih buruk lagi.

Pada Juli lalu, PBB memperkirakan enam bulan pembatasan atau lockdon dapat mengakibatkan 31 juta tambahan kasus kekerasan seksual di dunia dan tujuh juta kehamilan yang tidak diinginkan. PBB memperingatkan kondisi ini juga merusak perjuangan kampanye melawan mutilasi alat kelamin perempuan dan kawin paksa.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini