Curhatan Tenaga Kesehatan di Wisma Covid-19: Saya Capek dan Kangen Anak

Haryanto, iNews · Jum'at 25 Desember 2020 05:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 25 340 2333609 curhatan-tenaga-kesehatan-di-wisma-covid-19-saya-capek-dan-kangen-anak-EJDGu7hRBF.jpg Curhat tenaga kesehatan kepada istri gubernur Babel (foto: Dok Pemprov Babel)

PANGKALPINANG - Dua orang pejuang Covid-19 yang tengah menjalankan tugasnya di Wisma Karantina BKPSDM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), menyampaikannya keluhannya. Kepada istri gubernur, Melati Erzaldi, mereka mengaku lelah, namun tak kan menyerah sebelum pandemi berakhir.

Ya, mereka adalah Ani (26) dan Dwi (28), dua tenaga medis yang 24 jam bertugas merawat pasien Covid-19, dari awal kedatangan hingga pulih.

“Awalnya tidak ada yang mau menjadi perawat di wisma karantina, cuma kami bertiga. Itupun berat sekali, keluarga mengikhlaskan kami bekerja di Wisma ini. Sekarang total delapan orang perawat, tapi dua lagi akan balik ke rumah sakit provinsi,” ucap Ani, saat bertemu Ketua TP PKK Babel Melati Erzaldi di Wisma Karantina BKPSDMD Babel.

 Baca juga: Puluhan Nakes di RSUD Blora Terkonfirmasi Covid-19 

Perawat ini mengaku jika pasien banyak, mereka hanya bisa melakukan video call sebagai bentuk semangat dari keluarga.

"Kasian anak saya masih kecil, malah gak bisa dapat perhatian ibunya,” ungkap Ani.

Baca juga: Tenaga Kesehatan Meninggal karena Corona, Anaknya Selamat Setelah Operasi Cesar

Jumlah tenaga kesehatan yang sangat minim membuat para perawat harus pandai mengatur waktu. Dengan kekuatan 8 personil mengurusi 4 wisma sudah jelas tidak ada libur bagi mereka.

Ambulans pasien Covid-19 juga datang tak kenal waktu, ini mengakibatkan para perawat harus siap 24 jam ketika diperlukan.

“Kadang kita baru mau makan, tiba-tiba ambulans datang. Hal ini memaksakan kami menunda lapar dengan cara bersabar,” kata Dwi.

 

Dalam menjalankan tugasnya, para perawat tinggal di wisma dan memilih untuk tidak pulang agar tidak menularkan virus kepada anggota keluarganya.

Ketika terjadi penurunan pasien, sebagian perawat diperbolehkan untuk pulang. Tapi angka penurunan tidak terjadi dalam 2 bulan belakangan.

“Kami jarang pulang Bu, dan kalaupun diizinkan pulang anak-anak pengen meluk. Makanya saya kalo pulang nyelinap ke belakang untuk mandi dulu baru kumpul sama anak-anak,” ujar Dwi.

Para perawat meminta agar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) segera diberlakukan di Bangka Belitung, dengan harapan dapat memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 dan mengurangi beban para perawat.

“Saya capek, tenaga kesehatan kurang, kami hanya berdelapan. Kami gak kuat, gak ada libur. Dengan kebutuhan pasien yang banyak. Gak enak bu, susah ketemu keluarga, jaga jarak sama anak, tiap hari anak nanya, kita bingung jawabnya. Hari ini sudah bilang besok pulang, kalau besok saya belum bisa pulang, saya jawab apa sama anak saya,” ungkap Dwi.

Ketua TP PKK Melati Erzaldi, yang mendengar curhatan tersebut, hanya memberi semangat agar pejuang Covid-19 diberi kesehatan.

“Saya sebagai ibu paham sekali apa yang ibu-ibu rasakan, anak saya bertanya ‘kapan pulang?’ tapi saya masih belum punya jawabannya. Berat sekali rasanya. Padahal anak-anak saya sudah besar, saya gak kebayang kalo harus ninggalin anak-anak pas masih kecil. Tentu ini jadi beban buat ibu-ibu semua,” ujarnya.

Menurutnya, sesama manusia harus terus saling mengingatkan untuk peduli karena, tidak banyak yang mau jadi tenaga kesehatan menanangani pasien Covid-19.

“Sungguh mulia pekerjaan tenaga kesehatan, semoga apa yang telah dikerjakan terus diberkahi Allah SWT. Kami akan selalu dukung,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini