Kotan akan dibangun di sepanjang sungai atau di laut yang airnya berlimpah dan aman dari bencana alam.
Makanan diburu, dengan protein pokok termasuk salmon, rusa, dan beruang.
Mereka akan memetik rumput liar, sayur mayur, jamur dan buah beri, seperti kitopiro (daun bawang Alpine) dan shikerepe (buah beri dari pohon gabus Amur), tidak pernah memetik semuanya sekaligus dan selalu meninggalkan akarnya agar tanaman dapat terus tumbuh.
Makanannya sederhana, dengan minyak hewani, rumput laut dan garam sebagai satu-satunya penyedap rasa, dan millet merupakan biji-bijian utama mereka.
Pakaian dibuat dari kulit binatang atau ikan, atau ditenun dengan kulit kayu pohon atau serat jelatang.
Hidup selaras dengan alam adalah cara hidup yang diinginkan banyak orang Ainu untuk dilakukan kembali.
"Pada akhirnya yang saya inginkan adalah mendapatkan kembali sebagian tanah sehingga kami bisa berburu dan mencari ikan dengan bebas serta melakukan pertanian tradisional kami," kata Tahara kepada saya.
Semakin banyak orang Ainu juga mulai mempelajari kembali bahasa mereka, yang secara linguistik terisolasi dan dinyatakan terancam punah oleh Unesco.
Apa harapanmu yang lain untuk masa depan, tanya saya pada Tahara.
"Saya ingin memberi tahu dunia bahwa Jepang memiliki penduduk asli. Orang-orang tidak tahu,"katanya.
"Saya ingin kita semua saling menghormati, memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan hidup damai di negara ini.
"Dan, tentu saja, saya ingin tulang nenek moyang kita dikembalikan. Bawa mereka kembali ke kuburan tempat mereka diambil."
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.