"Bye, Bye Keluarga", Pilunya Duka Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 yang Jatuh Sampai ke Mancanegara

Susi Susanti, Koran SI · Senin 11 Januari 2021 09:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 18 2342305 bye-bye-keluarga-pilunya-duka-penumpang-sriwijaya-air-sj-182-yang-jatuh-sampai-ke-mancanegara-ubju2Thtqf.jpg Foto: Instagram

JAKARTA – “Bye bye family”. Pesan terakhir yang memilukan dari ibu dan anak-anaknya saat mereka menjadi penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh, terdengar hingga ke mancanegara. 

Hampir semua situs berita asing memberitakan jatuhnya pesawat naas ini. Seperti Daily Mail, BBC, CNN, dan Channel News Asia. 

Diketahui Sriwijaya Air 182 lepas landas dari bandara internasional Soekarno-Hatta untuk penerbangan 90 menit di atas Laut Jawa antara Jakarta dan Pontianak di Kalimantan Barat (Kalbar).

Tetapi pada pukul 14.40 - hanya empat menit setelah lepas landas - Boeing B737-500 itu jatuh hampir 10.000 kaki dalam waktu kurang dari 60 detik, dengan saksi mata mengklaim mereka mendengar dua ledakan.

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia Soerjanto Tjahjanto, mengatakan pihak berwenang telah menemukan dua kotak hitam di laut dan para penyelam sekarang berusaha mengambilnya, bersama dengan bagian tubuh dan puing-puing pesawat.

(Baca juga: Presiden Prancis dan Istrinya Dikecam Beli Bunga Seharga Rp10,3 Miliar di tengah Pandemi Covid-19)

Dari sinilah diketahui pesan dan postingan terakhir yang tragis dari para penumpang saat mereka berbagi foto di pesawat sebelum kecelakaan.

Seperti penumpang bernama Ratih Windania yang memposting foto selfie dengan ketiga anaknya tertawa saat keluarga naik ke pesawat.

(Baca juga: Arab Saudi Umumkan Pembangunan Kota "Zero-Carbon" di NEOM)

“Bye bye family. Kami sedang menuju rumah sekarang,” terangnya. .

Dikutip CNN, Ratih yang diketahui sedang hamil empat bulan, terbang ke Jakarta untuk mengunjungi anggota keluarganya bersama putrinya, Yumna, 2, keponakannya Athar Rizki Riawan, 8, paman Tony Islmail dan bibi Rachmawati.

Pesan itu dikirim tepat sebelum mereka naik pesawat dari Jakarta. “Berdoalah untuk kami,” tulis kakak Ratih, Irfansyah Riyanto memposting di Instagram dengan foto keluarga.

Dia mengatakan keluarganya awalnya berencana untuk mengambil penerbangan yang berbeda tetapi mereka berubah pikiran pada menit terakhir.

Seperti puluhan kerabat putus asa lainnya, Irfansyah langsung menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta pada Sabtu (9/1) malam. Pada hari Minggu (10/1), dia masih mengharapkan kabar baik tentang saudara perempuannya dan empat anggota keluarga lainnya dalam penerbangan tersebut, termasuk orang tuanya.

“Kami merasa tidak berdaya, kami hanya bisa menunggu dan berharap segera mendapat informasi,” terang kata Irfansyah kepada wartawan, dikutip Daily Mail.

Irfansyah mengatakan keluarganya awalnya akan mengambil penerbangan sebelumnya yang dioperasikan oleh unit Sriwijaya NAM Air. Namun hal itu diubah dan tidak diketahui alasannya.

“Saya yang mengantarkan mereka ke bandara, dibantu check-in dan barang bawaan. Saya merasa masih belum percaya dan terjadi terlalu cepat,” ujarnya.

Polisi meminta keluarga memberikan informasi untuk membantu mengidentifikasi jenazah yang ditemukan seperti catatan gigi dan sampel DNA.

Sementara itu, di rumah sakit polisi, saudara dari co-pilot Diego Mamahit mengatakan dia telah dimintai sampel darahnya.

“Saya yakin adik saya selamat, ini hanya untuk prosedur polisi,” terang Chris Mamahit.

“Diego pria yang baik, kami masih yakin Diego selamat,” lanjutnya.

Di profil LinkedIn-nya, Mahamit menulis “Saya sangat suka terbang”. Dia dan pilot Afwan, memiliki hampir dua dekade pengalaman terbang komersial di antara mereka. Afwan sebelumnya adalah seorang pilot angkatan udara.

Sementara itu, seorang guru sekolah menengah pertama di Pontianak, Panca Widiya Nursanti, diketahui kembali ke Pontianak setelah berlibur di kota kelahirannya Tegal, Jawa Tengah (Jateng). Di Pontianak, suaminya Rafiq Yusuf Al Idrus menceritakan kontak terakhirnya dengannya.

“Saya bercanda dengan mengatakan bahwa ketika dia tiba di Pontianak kami akan makan sate bersama,” kata sang suami Rafiq.

“Dia menghubungi saya melalui Whatsapp pada pukul 02.05 malam dengan tawa. Dia sudah naik pesawat dan dia mengatakan kondisi cuaca tidak bagus. Saya mengatakan banyak berdoa,” ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini