SIKKA - Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur membuat luapan beberapa kali, termasuk daerah aliran sungai (DAS) Ria Wajo. Akibatnya, jembatan gantung atau oleh warga setempat disebut Jembatan Umar, hanyut terbawa banjir, dan membuat dua desa terisolir.
Hanyutnya jembatan gantung ini berdampak lumpuhnya aktivitas lalu lintas warga Desa Paga, Kecamatan Paga dan Desa Korobhera, Kecamatan Mego. Warga dua desa ini, terisolasi sejak Minggu petang.warga dari desa mau menuju ke kota kecamatan tidak bisa melintas akibat jembatan putus dan banjir besar.
Baca juga: Halmahera Utara Diterjang Banjir, 1.801 Jiwa Mengungsi
Informasi ini disampaikan Staf Caritas Keuskupan Maumere, Yuven Wangge. Ia berada DAS Ria Wajo, tepat di lokasi jembatan putus itu untuk memantau situasi pasca jembatan kejadian.

Yuven menjelaskan, luapan DAS Ria Wajo yang merupakan gabungan air dari Kali Bu dan Kali Megi sangat besar. Jembatan sepanjang 60 meter yang selama ini dimanfaatkan warga tiga kampung, yakni Ubamoro, Mba’a Laba, Magetake, dan Wara tidak bisa dilalui sejak Minggu 17 Januari 2021 petang.
Baca juga: 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan Terdampak Banjir
“Jembatan gantung ini selama ini digunakan untuk ojek dan pejalan kaki. Warga tidak bisa menyeberagi lagi setelah jembatan ini putus,” kata Yuven.
Selain jembatan gantung rusak, lanjut Yuven, banjir DAS Ria Wajo, juga merendamkan sawah di sekitar aliaran sungai.
“Areal sawah milik para petani setempat, juga terendam air,” kata Yuven.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.