Kudeta Suu Kyi, Militer Myanmar Umumkan Keadaan Darurat

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 01 Februari 2021 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 18 2354254 kudeta-suu-kyi-militer-myanmar-umumkan-keadaan-darurat-lZdx0KE0qE.jpg Tentara Myanmar terlihat berjaga di Yangon, 1 Februari 2021. (Foto: Reuters)

YANGON – Militer Myanmar mengatakan akan mengambil alih pemerintahan selama setahun dan mengumumkan keadaan darurat di negara itu. Langkah itu diambil menyusul penangkapan terhadap pemimpin pemerintahan Aung San Suu Kyi dan beberapa tokoh pemerintahan pada Senin (1/2/2021).

Suu Kyi ditangkap dini hari bersama sejumlah tokoh pemerintahan lainnya, termasuk Presiden Win Myint, dalam sebuah penggerebekan oleh tentara pada Senin dini hari.

BACA JUGA: Militer Myanmar Sebut Suu Kyi Ditahan Terkait "Kecurangan Pemilu"

Penahanan tersebut terjadi di saat pemerintahan sipil Myanmar yang dipimpin Suu Kyi berselisih dengan militer. Dalam pernyataan yang disiarkan di televisi, militer Myanmar mengatakan Suu Kyi ditahan terkait dugaan “kecurangan pemilu”.

Partai NLD yang dipimpin Suu Kyi menang telak dalam pemilu Myanmar yang digelar pada November 2020.

Militer Myanmar sejak itu telah menuduh adanya kecurangan, mendesak pejabat pemilihan untuk meninjau penghitungan hasil akhir pemilu. Militer bersikeras bahwa pemungutan suara itu penuh dengan penipuan, mengklaim mereka telah menemukan bukti sebanyak 8,6 juta penyimpangan dalam daftar pemilih.

Juru Bicara NLD Myo Nyunt meminta agar warga Myanmar tidak bertindak gegabah setelah penangkapan ini.

BACA JUGA: Aung San Suu Kyi Ditangkap, Militer Myanmar Ambil Alih Kekuasaan

"Saya ingin memberi tahu orang-orang kami untuk tidak menanggapi dengan gegabah dan saya ingin mereka bertindak sesuai dengan hukum," katanya kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa dia sendiri diperkirakan akan ditangkap.

Suu Kyi, yang memenangi Nobel Perdamaian pada 1991, berkuasa di Myanmar setelah menang telak dalam pemilu 2015. Dia menjadi sorotan pada 2017 setelah ratusan ribu Rohingya melarikan diri dari operasi militer ke pengungsian dari negara bagian Rakhine barat Myanmar.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini