Libatkan 28.000 Kamar Hotel, Inggris Luncurkan Skema Karantina Covid-19 di Hotel, Biaya Rp15 Juta per Orang

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 05 Februari 2021 08:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 18 2356850 libatkan-28-000-kamar-hotel-inggris-luncurkan-skema-karantina-covid-19-di-hotel-biaya-rp15-juta-per-orang-tXNRNuoehp.jpg Inggris akan melibatkan hotel untuk karantina Covid-19 bagi para pelancong (Foto: Twitter)

INGGRIS - Skema karantina hotel di Inggris akhirnya akan dimulai pada 15 Februari mendatang.

Nantinya para pendatang dari negara-negara yang masuk “daftar merah” harus diisolasi selama 10 hari atau 11 malam dengan biaya 800 poundsterling (Rp15 juta) per orang.

Negara-negara dalam "daftar  merah" tersebut mencakup semua Amerika Selatan, Afrika Selatan, Portugal, dan Uni Emirat Arab - negara-negara di mana non-penduduk dan warga negara dilarang memasuki Inggris.

Pensiunan jenderal Marinir Kerajaan Sir Gordon Messenger, mantan wakil kepala staf pertahanan yang memimpin operasi pengujian komunitas massal di Liverpool tahun lalu, telah direkrut untuk mengawasi proyek tersebut.

Tadi malam, pemerintah Inggris diklaim berlomba untuk memesan 28.000 kamar hotel di seluruh Inggris dalam upaya meluncurkan skema tersebut.

Dokumen yang didapatkan Daily Telegraph menunjukkan para menteri telah meminta bos hotel untuk siap menampung 1.425 penumpang per hari pada 15 Februari.

(Baca juga: Tes Palsu Covid-19, Penumpang Pesawat Beli Hasil PCR Negatif yang Dipalsukan Demi Sampai Tempat Tujuan)

Partai Buruh mengatakan tindakan itu akan dilakukan hampir dua bulan setelah strain Covid-19 Afrika Selatan (Afsel) ditemukan di Inggris.

“Kami berpacu dengan waktu untuk melindungi perbatasan kami dari strain Covid baru ... seperti biasa dengan Pemerintah ini, sudah terlalu sedikit, sudah terlambat,” terang Menteri Dalam Negeri Bayangan Nick Thomas-Symonds.

Rincian akan diumumkan minggu depan tentang bagaimana pelancong yang kembali dari hotspot virus corona dapat memesan ke hotel.

(Baca juga: Kudeta Militer Myanmar, Warga: Seperti Deja Vu, Kami Seperti Kembali ke Masa Lalu)

Namun para pejabat mengatakan proyek ini masih terkendala masalah logistik.

“Ini rumit dan ada banyak potongan teka-teki. Tidak sesederhana seperti mengusir orang ke kamar hotel dan mengatakan sampai jumpa nanti,” terang seorang sumber.

Di antara masalah tersebut adalah memastikan para tamu mendapatkan tiga kali makan sehari yang dikirim ke kamar mereka.

Pemimpin Partai Buruh Sir Keir Starmer menuduh para menteri berada dalam 'kekacauan dan kebingungan'.

“Tentunya, sebelum Anda mengumumkan pengaturan seperti ini, Anda telah melakukan perencanaan sebelumnya,” tegasnya saat kunjungan ke pusat vaksin di Watford.

Dia mengklaim Inggris akan 'kembali ke titik awal' jika strain Covid yang resisten terhadap vaksin yang ada masuk ke negara itu.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson telah menugaskan Menteri Kesehatan (Menkes) Matt Hancock untuk memimpin rezim isolasi diri wajib dan program pengujian yang ditingkatkan.

Departemen Kesehatan akan memimpin sub-komite Kabinet baru yang terdiri dari para menteri senior untuk mengawasi peluncuran tersebut.

“Kami sekarang bekerja dengan kecepatan tinggi untuk mengamankan fasilitas yang kami butuhkan untuk menjalankan karantina terkelola untuk warga negara Inggris yang pulang dari negara berisiko paling tinggi, dan secara tepat terlibat dengan perwakilan dari industri perhotelan, maritim dan penerbangan, dan belajar dari teman-teman kami dari seluruh dunia,” terang juru bicara departemen kesehatan.

“Dalam menghadapi varian baru, penting bagi Pemerintah untuk terus mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi orang dan menyelamatkan nyawa,” lanjutnya.

Sementara itu, para pelaku bisnis perhotelan besar mengatakan mereka tidak mengetahui tentang rencana tersebut.

“Sampai hari ini kami belum mendengar apa pun meskipun ada banyak tawaran,” ujar Kepala Eksekutif Best Western Hotels, Rob Paterson.

“Di perusahaan normal mana pun, jika Anda keluar dan mengumumkan program secara nasional, dan Anda tidak memikirkan bagaimana Anda akan merencanakannya, dan Anda belum berbicara dengan orang-orang yang terlibat - saya berpikir saya tidak akan punya pekerjaan jika saya melakukan itu di perusahaan saya,” ungkapnya kepada program Radio 4's Today.

“Tampaknya logis bagi saya bahwa Anda akan duduk bersama maskapai penerbangan, bandara, dan operator hotel dan membicarakan ini dengan telepon Zoom atau apa pun itu,” lanjutnya.

Juru bicara Accor, yang memiliki hotel ibis di bandara Gatwick dan Heathrow, mengatakan siap mendukung rencana tersebut seperti yang telah dilakukan di negara lain, khususnya di Australia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini