Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Vaksinasi Capai 15 Juta Orang, Pemerintah Inggris Diminta Cabut Lockdown

Agregasi VOA , Jurnalis-Senin, 15 Februari 2021 |14:07 WIB
Vaksinasi Capai 15 Juta Orang, Pemerintah Inggris Diminta Cabut Lockdown
PM Inggris Boris Johnson (Foto: Reuters)
A
A
A

INGGRIS - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson memuji “tonggak sejarah yang signifikan” ketika data menunjukkan 15 juta dosis pertama vaksin virus Covid-19 telah didistribusikan.

Hal ini memicu seruan agar pemerintah segera melonggarkan langkah-langkah lockdown, atau penutupan wilayah dan penghentian sebagian kegiatan ekonomi.

Program vaksin dinilai sebagai salah satu dari sedikit keberhasilan pemerintah menangani pandemi yang telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi sangat besar dibanding negara-negara lain di Eropa. Total penduduk Inggris adalah 67 juta orang.

Setelah menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui vaksin, pemerintah Inggris menetapkan target ambisius untuk memvaksinasi 15 juta orang, terutama warga lansia yang berusia di atas 70 tahun, petugas medis dan layanan kesehatan, serta warga yang rentan secara klinis.

(Baca juga: Usai Keguguran, Meghan Markle Hamil Anak Kedua)

Johnson mengatakan kelompok-kelompok itu sudah divaksinasi, tetapi ia tidak bicara tentang Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara, dan tidak mengatakan apakah target secara keseluruhan telah tercapai. Di sebagian daerah, kelompok yang tidak menjadi prioritas utama juga telah divaksinasi.

“Hari ini kita mencapai tonggak sejarah yang signifikan. Tidak ada yang berpuas diri, jalan kita masih panjang dan tentunya akan ada rintangan di tengah jalan. Tetapi setelah apa yang kita capai, saya tahu kita akan terus maju dengan penuh percaya diri,” ujar Johnson.

Ia akan menetapkan kemajuan berikutnya pada Senin (15/2).

Keberhasilan program vaksin telah memicu seruan dari warga yang menentang kebijakan lockdown berkepanjangan agar pemerintah mulai melonggarkan pembatasan yang memerintahkan warga supaya tinggal di rumah, menutup toko-toko yang tidak esensial dan menutup sekolah.

Tetapi Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengatakan masih terlalu dini untuk membahas kapan kebijakan pembatasan ini akan dicabut.

(Baca juga: Pelihara Kucing Liar Afrika Tanpa Izin, Lelaki Ini Ditangkap dan Didenda Rp97 Juta)

“Kami juga berambisi dan berkeinginan untuk segera menyudahi lockdown ini. Kami ingin melakukannya secara bertanggungjawab dan aman, dan oleh karena itu harus didasarkan pada bukti,” ujar Raab pada Times Radio.

Raab menanggapi surat dari 63 anggota parlemen Partai Konservatif yang berkuasa, yang menuntut agar semua kebijakan pembatasan dicabut pada akhir April. Ini adalah target yang ditetapkan pemerintah untuk dapat memvaksinasi kelompok berikutnya, yang diperkirakan berjumlah 32 juta orang, di mana 99% kematian terjadi.

“Setelah kesembilan kelompok prioritas itu dilindungi pada akhir April nanti, tidak ada lagi pembenaran untuk melakukan pembatasan legislatif apapun,” tulis surat yang diorganisir oleh COVID Recovery Group itu.

Johnson menetapkan tanggal 22 Februari untuk mengakhiri lockdown. Sebelumnya dia juga ingin agar semua sekolah dibuka kembali pada 8 Maret mendatang.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement