Kelas Pembuatan Bom di Masjid, 30 Militan Taliban Tewas

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 16 Februari 2021 08:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 16 18 2362711 membuat-bom-di-masjid-30-militan-taliban-tewas-36hyFk9hWd.jpg Ledakan terjadi di masjid saat militan membuat bos (Foto: Anadolu Agency)

AFGHANISTAN - Setidaknya 30 militan Taliban tewas dalam ledakan di sebuah masjid di Afghanistan saat kelas pembuatan bom.

Korps Shaheen ke-209 - bagian dari Tentara Nasional Afghanistan - mengatakan dalam sebuah pernyataan jika 30 pejuang termasuk enam warga negara asing yang ahli pembuat ranjau, tewas dalam ledakan pada Sabtu (13/2) pagi.

Ledakan itu terjadi di sebuah masjid di desa Qultaq di distrik Dowlatabad di provinsi Balkh.

Pernyataan itu mengatakan mayat enam warga negara asing itu tidak dapat diidentifikasi karena tubuh mereka hancur sehingga sulit dikenali.

Kantor Berita Khaama Press melaporkan militan Taliban telah berkumpul di masjid untuk dilatih tentang cara membuat bom dan IED.

Dalam insiden terpisah, pejabat keamanan melaporkan dua anak terbunuh oleh IED yang ditanam oleh Taliban di desa Qotar Blaq di Provinsi Kunduz.

(Baca juga: Mengajar Al-Qur'an di Rumah, Ulama Perempuan Ditangkap)

Insiden ini terjadi ketika serangan dan kekerasan Taliban melonjak di seluruh Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir menyusul “macetnya” perundingan damai dengan pemerintah Kabul.

Pada Senin (15/2), Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan aliansi tersebut tidak akan menarik pasukannya dari Afghanistan 'sebelum waktu yang tepat', menjelang diskusi oleh para menteri pertahanan tentang penempatan tersebut.

Para menteri dari 30 negara anggota NATO akan bertemu pada Rabu dan Kamis mendatang untuk mengadakan pembicaraan tingkat tertinggi sejak Presiden AS Joe Biden menjabat. Biden berjanji untuk bekerja lebih dekat dengan sekutu setelah empat tahun ketegangan di bawah mantan Presiden AS Donald Trump.

Agenda teratas untuk konferensi virtual adalah nasib misi dukungan aliansi yang berkekuatan 9.600 orang di Afghanistan setelah Trump mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk menarik pasukan.

(Baca juga: Covid-19 Serang Kucing di Korsel, Gejalanya Mirip dengan Manusia)

Masa depan penempatan bergantung pada apakah Biden setuju untuk mematuhi tenggat waktu Mei untuk menarik pasukan asing atau mengambil risiko serangan berdarah dari pemberontak Islam dengan tetap diam.

Pemerintahan Biden mengatakan sedang meninjau kesepakatan itu, dan Pentagon menuduh Taliban tidak memenuhi janji yang mencakup pengurangan serangan dan memutuskan hubungan dengan kelompok pemberontak seperti Al-Qaeda.

Para menteri pertahanan tidak diharapkan untuk membuat pengumuman konkrit tentang masa depan penempatan pada pertemuan mereka.

"Taliban harus mengurangi kekerasan, bernegosiasi dengan itikad baik dan memenuhi komitmen mereka untuk berhenti bekerja sama dengan kelompok teroris nasional," kata Stoltenberg.

“Tujuan bersama kami jelas. Afghanistan seharusnya tidak pernah lagi menjadi surga bagi teroris untuk menyerang tanah air kami,” lanjutnya.

Sementar itu, Taliban telah memperingatkan menteri NATO untuk tidak mencari 'kelanjutan pendudukan dan perang'.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini