Laporan Ungkap Pembantaian Massal oleh Pasukan Eritrea di Kota Suci Ethiopia

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 26 Februari 2021 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 18 2368921 laporan-ungkap-pembantaian-massal-oleh-pasukan-eritrea-di-kota-suci-ethiopia-ZNkZbaDkpz.jpg Citra satelit menunjukkan adanya kuburan baru di gereja Arba'etu Ensessa, di mana pemakaman korban pembantian dilaporkan dilakukan. (Foto: Maxar Technology/Amnesty)

Menurut orang-orang di kota itu, penembakan oleh pasukan Ethiopia dan Eritrea di sebelah barat Aksum dimulai pada Kamis 19 November.

"Serangan ini berlanjut selama lima jam, dan tanpa henti. Orang-orang yang berada di gereja, kafe, hotel dan tempat tinggal mereka meninggal. Tidak ada pembalasan dari angkatan bersenjata mana pun di kota, itu benar-benar menargetkan warga sipil," kata seorang pegawai negeri di Aksum kepada BBC.

Amnesty telah mengumpulkan banyak kesaksian serupa yang menggambarkan penembakan terus-menerus terhadap warga sipil malam itu.

Setelah menguasai kota, tentara, umumnya diidentifikasi sebagai Eritrea, mencari tentara dan milisi TPLF atau "siapa pun dengan senjata", kata Amnesty.

"Ada banyak... pembunuhan dari rumah ke rumah," kata seorang wanita kepada kelompok hak asasi. Amnesty mengatakan bahwa ada bukti kuat bahwa pasukan Ethiopia dan Eritrea melakukan berbagai kejahatan perang dalam ofensif mereka untuk menguasai Aksum.

Menurut laporan Amnesty, pasukan Eritrea dilaporkan kembali seminggu kemudian, dipicu oleh serangan pejuang pro-TPLF yang bersenjata ringan. Antara 50 dan 80 pria dari Aksum menargetkan posisi Eritrea di bukit yang menghadap ke kota pada pagi hari.

"Kami ingin melindungi kota kami jadi kami berusaha untuk mempertahankannya terutama dari tentara Eritrea... Mereka tahu cara menembak dan mereka memiliki radio, komunikasi... saya tidak memiliki senjata, hanya sebatang tongkat," kata seorang pria berusia 26 tahun yang berpartisipasi dalam serangan itu kepada Amnesty.

Saksi mata mengatakan pada awalnya tentara Eritrea tidak akan membiarkan siapa pun mendekati mayat-mayat di jalan, dan akan menembak siapa pun yang melakukannya.

Seorang wanita, yang keponakannya berusia 29 dan 14 tahun tewas, mengatakan jalanan "penuh dengan mayat".

Amnesty mengatakan setelah campur tangan para tetua dan tentara Ethiopia, penguburan dimulai selama beberapa hari, dengan sebagian besar pemakaman berlangsung pada 30 November setelah orang-orang membawa jenazah ke gereja, seringkali 10 jenazah sekaligus dimuat dengan kereta kuda atau keledai.

Di Abnet Hotel, pegawai negeri yang berbicara kepada BBC mengatakan beberapa jenazah tidak dipindahkan selama empat hari.

“Mayat yang tergeletak di sekitar Abnet Hotel dan Seattle Cinema dimakan oleh hyena. Kami hanya menemukan tulang belulang. Kami mengubur tulang.

"Saya dapat mengatakan sekitar 800 warga sipil tewas di Aksum."

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini