Dia menegaskan bahwa karena menampung pangkalan angkatan laut dan udara AS di wilayahnya, Filipina akan menjadi "yang pertama terkena serangan" jika konflik militer terjadi antara Washington dan Beijing pecah. Negara itu akan "mengadopsi kebijakan luar negeri yang independen" untuk keluar dari bahaya, tambahnya.
Perjanjian Visiting Forces mengatur keberadaan pasukan AS di Filipina. Ini mulai berlaku pada 1999, tetapi ditangguhkan oleh Duterte tahun lalu setelah sekutu dekatnya dan sekarang senator, Ronald Dela Rosa, visa AS-nya dicabut karena keterlibatannya dalam perang brutal negara itu terhadap narkoba.
Namun, pasukan AS masih tetap berada di Filipina, dengan perintah untuk keluar sudah ditunda dua kali. Bulan lalu, Duterte mengklaim bahwa Washington harus membayar Manila jika ingin mempertahankan VFA.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.