Jual Mie Ramen Murah Meriah, Petani Ini Mendadak Jadi Selebriti Internet

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 12 Maret 2021 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 12 18 2376582 jual-mie-ramen-murah-meriah-petani-ini-jadi-selebriti-internet-l8Zq5QcXLa.jpg Petani penjual mie ramen menjadi terkenal dan viral (Foto: South China Morning Post)

CHINA - Seorang petani di China tanpa disadari menjadi selebriti karena menjual mie ramen dengan harga sangat murah. Cheng Yunfu menjualnya hanya seharga tiga yuan (Rp6.000) dan langsung viral menjadi selebriti internet.

Cheng yang dijuluki “Ramen Brother” oleh penggemar online, tidak menyangka dirinya akan terkenal setelah video yang dirilis di media sosial akhir bulan lalu tentang dirinya yang menjual mangkuk mie dengan harga murah.

Awalnya Cheng sempat kecewa atas banyaknya gangguan pada hidupnya dan desanya yang tenang. Namun satu minggu kemudian dia mengubah hidupnya dan berharap popularitas yang terus dia nikmati akan meningkatkan mata pencaharian sesama penduduk desa.

Dalam video tersebut, Cheng, 39, mengatakan dia belum mencantumkan harga mie yang dia buat dan jual di pasar pedesaan di daerah Feixian di provinsi Shandong timur China dalam 15 tahun.

Alasannya, jika dia menaikkan harga, penduduk desa tidak akan mampu lagi membelinya. Cheng mengatakan alternatifnya adalah mengurangi harga mie agar mereka tidak kelaparan.

“Kalau semua orang sudah kaya, saya akan menaikkan harganya,” ujarnya dalam video klip yang sudah ditonton 200 juta kali itu.

(Baca juga: Usai Belajar Tatap Muka , 10 Sekolah Kembali Tutup)

Masyarakat umum sangat tersentuh oleh kesederhanaan dan kebaikan Cheng. Ratusan blogger video telah berbondong-bondong ke desa Matihe tempat dia tinggal. Para blogger ini juga berharap video tentang Cheng bisa membuat mereka semakin terkenal di media sosial (medsos).

Masuknya pengunjung telah menyebabkan kemacetan di jalan sempit desa sementara beberapa video blogger telah menginvasi privasinya, memanjat tembok berharap untuk melihatnya di live streaming.

Cheng awalnya mundur ke dalam ruangan dan tidak dapat melanjutkan membuat mie. Dia bahkan terpaksa bersembunyi di rumah seorang kerabat dalam semalam.

“Saya tidak ingin menjadi terkenal. Situasi saat ini telah membawa banyak masalah bagi saya,” ujar Cheng, kepada portal berita dzwww.com yang berbasis di Shandong dalam sebuah wawancara pada 27 Februari lalu.

(Baca juga: Update 12 Maret, 3.837 WNI di Luar Negeri Positif Covid-19)

“Saya hanyalah petani biasa. Saya membuat dan menjual mie ramen. Itu saja tentang saya,” ujarnya.

Selain kehadiran para blogger, sejumlah penggemar baru Cheng berkendara ratusan mil ke pasar untuk melihatnya dan mencicipi mie ramen buatannya.

Mereka rela mengantre selama satu jam untuk mendapatkan semangkuk ramen viral itu. Beberapa blogger difoto mempromosikan produk yang mereka iklankan di sebelahnya.

Cheng mengatakan kepada portal berita jika banyak pelanggannya merasa takut dan khawatir karena banyak orang yang mengikuti mereka di pasar. Mereka ditanya-tanya dan terus-menerus meminta untuk difoto bersamanya.

“Saya berada di bawah tekanan besar. Semua pengguna Internet China berfokus pada saya. Ini telah mempengaruhi hidup saya, ”kata Cheng.

“Saya berharap perhatian publik akan beralih dari saya,” lanjutnya.

Namun, beberapa hari kemudian, dalam sebuah wawancara dengan Chutian Metropolis News yang berbasis di Hubei minggu lalu, Cheng mengaku telah berubah pikiran dan terbiasa dengan perhatian terus-menerus dari para blogger video yang mengerumuninya.

"Mereka mulai streaming langsung pada pukul 06.00 – 07.00 dan mengakhiri pekerjaan mereka pada pukul 22.000,” jelasnya.

“Saya mengerti mereka. Mereka seperti saya. Mereka hanya mencari nafkah,” tambahnya.

Setelah melihat penduduk desa mendapatkan keuntungan finansial dari masuknya pengunjung, Cheng mengatakan dirinya ingin menggunakan status selebritinya untuk kepentingan desa dengan meningkatkan ekonomi lokal. Matihe terletak di pusat kota Shandong tetapi tidak memiliki lampu jalan atau bahkan jalan beton.

“Jika memungkinkan, saya berharap bisa populer selamanya, sehingga masyarakat Desa Matihe bisa hidup sejahtera,” katanya kepada Chutian Metropolis News.

Sejak saat itu, desanya pun mulai terasa “hidup” kembali. Bisnis di penginapan lokal, restoran dan supermarket telah berkembang pesat sementara warung-warung kecil yang menjual makanan panggang, sup domba dan kue tradisional lokal bersama dengan hiburan menjamur di daerah sekitar rumah Cheng.

Seorang wanita, bermarga Cui, yang sebelumnya adalah ibu rumah tangga, telah menggunakan becaknya untuk mengantar pengunjung baru ke desa sejak Cheng menjadi terkenal.

"Selama seminggu terakhir, saya telah mengangkut sekitar 4.000 hingga 5.000 orang secara total, dengan bekerja dari pukul 10.00 hingga 21.00 setiap hari," ungkapnya.

Sementara itu, seorang pejabat desa, Li Weiming, mengatakan dia dan lima rekannya bersama dengan 30 relawan telah bekerja selama dua minggu untuk memberikan layanan kepada blogger dan penggemar, termasuk mengendalikan kekacauan dan mengatur bus antar-jemput dari rumah Cheng ke pasar.

“Saya menyelesaikan pekerjaan saya pada pukul 23.00 setiap hari,” kata Li.

“Kami semua senang desa kami mendapatkan kesempatan ini,” ujarnya.

Sejak masuknya pengunjung, desa tersebut telah memperluas jalan utamanya ke desa dan sekarang memiliki enam tempat parkir sementara untuk menampung lebih banyak kendaraan.

Bahkan penyedia telekomunikasi China Mobile mengirimkan dua kendaraan sinyal untuk memperkuat transmisi sinyal lokal setelah blogger mengeluh koneksi internet terlalu lambat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini