Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Bangsawan Pajajaran Bersimbah Darah dan Dyah Pitaloka Bunuh Diri di Bumi Majapahit

Doddy Handoko , Jurnalis-Senin, 29 Maret 2021 |07:29 WIB
 Kisah Bangsawan Pajajaran Bersimbah Darah dan Dyah Pitaloka Bunuh Diri di Bumi Majapahit
Dyah Pitaloka (foto: istimewa)
A
A
A

Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005), yang ditulis berdasarkan Kidung Sundayana, mengungkapkan, Gajah Mada mengambil keputusan sepihak dengan menyatakan bahwa Dyah Pitaloka Citraresmi hanya sebagai upeti dari Kerajaan Sunda untuk Majapahit.

Di Pesanggrahan atau lapangan Bubat itulah pasukan Majapahit menyerang rombongan tamu mereka. Pihak Sunda yang tidak bisa menerima penghinaan itu akhirnya memutuskan untuk melawan meski jumlahnya tidak sebanyak pasukan Majapahit.

Serangan tak seimbang itu memakan banyak korban. Bahkan, konon seluruh rombongan Sunda tewas, hanya menyisakan Dyah Pitaloka Citraresmi.

Melihat situasi itu, Dyah Pitaloka Citraresmi akhirnya bunuh diri, mengakhiri nyawa sendiri (belapati) dengan menancapkan tusuk konde tepat di jantungnya. Seluruh bangsawan Pajajaran gugur dalam perang yang tidak seimbang itu.

Hayam Wuruk , Raja Majapahit juga menyesali keputusan Gajah Mada. Dalam Kidung Sunda, diterangkan kekecewaan mendalam Hayam Wuruk itu membuat hubungannya dengan sang mahapatih menjadi renggang.

Akibat peristiwa itu, Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan.

Di Nagarakretagama diceritakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh "Madakaripura" yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada.

Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Tragedi di Bubat memicu rusaknya hubungan antara Majapahit dan Pajajaran.

Pada abad ke-20, CC Berg, sejarawan Belanda, menerbitkan teks dan terjemahan Kidung Sunda (1927) yang mengurai Peristiwa Bubat dan versi yang lebih pendek Kidung Sundayana (1928).

Dalam Penulisan Sejarah Jawa, Berg menyebut Kidung Sunda mengandung fakta-fakta sejarah karena kejadian itu diperkuat tulisan Sunda kuna, Cerita Parahyangan.

Dalam Kakawin Nagarakertagama disebutkan bahwa Kerajaan Majapahit telah menguasai daerah Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian Kepulauan Filipina di masa kepemimpinan Hayam Wuruk (1350-1389).

Ada satu wilayah yang belum bisa dikuasai oleh Majapahit, yaitu Kerajaan Sunda. Kendati Kerajaan Sunda sama-sama berada di pulau Jawa, Mahapatih Gajah Mada tidak memiliki alasan untuk menaklukkannya.

Wawan Hermawan dalam artikel bertajuk “Perang Bubat dalam Literatur Majapahit” yang terhimpun di jurnal Wawasan Agama dan Sosial Budaya (Volume 34, 2011:39), kekosongan alasan untuk menaklukkan Sunda menyebabkan Majapahit memakai jalur diplomasi untuk menjalin persekutuan.

Hayam Wuruk melakukannya dengan cara berniat mempersunting putri Raja Sunda, Prabu Linggabuana, yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi.

Paul Michel Munoz dalam Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula (2006) menuliskan, kedua kerajaan itu tidak bisa mencapai keadaan seperti sebelumnya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement