Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pilu Para Penyintas Kejahatan Terorisme, Cacat hingga Dipandang Sebelah Mata

Felldy Utama , Jurnalis-Kamis, 01 April 2021 |14:24 WIB
 Kisah Pilu Para Penyintas Kejahatan Terorisme, Cacat hingga Dipandang Sebelah Mata
Foto: Illustrasi Shutterstock
A
A
A

JAKARTA - Duka dan trauma yang mendalam menyisakan kisah para korban atas kejahatan terorisme kala itu. Cacat fisik, dipandang sebelah mata di lingkungan sosial, bahkan harus kehilangan orang tercinta, menjadi pilu yang tak mudah dihadapi para penyintas tersebut.

Iwan Setiawan, salah satu penyintas menyebut perstiwa itu menjadi titik kehancuran bagi hidupnya. Dia yang bisa menggunakan penglihatannya dengan sempurna namun berubah ketika Iwan menjadi salah satu korban dari kejahatan bom tahun 2004 silam.

"Dampak dari kejadian bom itu saya kehilangan mata kanan saya, saya jadi cacat permanen alias mata kanan tidak bisa melihat lah," katanya dalam sebuah video yang diunggah oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kamis (1/4/2021).

Baca juga:  Ketatkan Pengamanan, Polda Metro Jaya Berlakukan 2 Pintu Masuk

Tak hanya penglihatannya saja, Iwan juga harus merelakan pekerjaan yang dia emban sebelumnya. Bahkan, kehilangan istri tercinta menjadi salah satu pilu terdalam yang Iwan rasakan.

Baca juga:  Komisi I DPR Imbau Pam Swakarsa Dibangkitkan Kembali Guna Pencegahan Terorisme

Rasa kehilangan orang tercinta bukan saja hanya dirasakan Iwan semata, tapi juga dirasakan Sarah Darien Salsabila. Ya, Sarah harus kehilangan sang ibunda semasa dia masih kecil kala itu.

"Suka kayak cemburu kalo lihat orang-orang lain tuh bisa suka ketemu sama mamahnya, masih bisa ngobrol. Tapi di umur Sarah yang masih kecil, Sarah harus menerima kehilangan, tanpa mamah," ucap Sarah sambil meneteskan air mata saat mengenang sang ibunda.

 

Bukan hanya Iwan, Febby Firmansyah Isran yang saat itu menjadi salah satu korban pada kejadian bom tahun 2004 membagikan kisah pilunya. Dia merasa dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosial setelah harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena luka bakar yang dialaminya.

"Pernah saya masuk lift, orang itu saya masuk keluar. Dalam hati saya apa ini, saya udah korban tapi orang menganggap saya suatu hal yang aneh," ujar Febby.

Tak sampai disitu, Febby juga harus mendapat perlakuan berbeda saat hendak melamar pekerjaan. Mengingat, perusahaan yang sebelumnya menampung dia sudah tidak lagi beroperasi.

Saat itu, perusahaan-perusahaan sudah melebeli Febby tak masuk kualifikasi calon karyawan setelah melihat kondisi tubuhnya.

"Kenapa saya bilang? Kan belum dites, belum ngobrol, belum apa. Oh iya, dari secara fisik bapak dianggap cacat. Sampai saat ini, sudah 3 kali saya melamar dan datang dianggap saya cacat," tutur dia.

Kendati begitu, ia merasa apa yang menimpa dirinya itu sebagai anugerah sekaligus teguran dari tuhan untuk dirinya menjadi sosok yang lebih baik ke depannya. Menurutnya, hal itu salah satu motivasi yang membuat dirinya tetap bangkit dalam menjalani kehidupan.

"Disitulah titik balik saya, oke berarti kalo tuhan merasa saya ini tidak berguna, saya akan mati saat itu. Saya dikasih kesempatan hidup kedua. Ditambah lagi motivasi saya bahwa apa yang saya harapkan masih tetap terjadi yaitu yang paling saya rasakan adalah ketika itu saya mau nikah dan calon istri saya, akhirnya tetap mau menikah dengan saya," pungkasnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement