Apa yang Terjadi pada Dosis Vaksin Covid-19 yang Tak Terpakai?

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 20 April 2021 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 20 18 2397528 apa-yang-terjadi-pada-dosis-vaksin-covid-19-yang-tak-terpakai-MiU7IjESCh.jpg Vaksin Covid-19 (Foto: Johns Hopkins)

DENMARK - Sementara beberapa negara berebut untuk mendapatkan vaksin Covid-19, yang lain bertanya-tanya apa yang harus dilakukan dengan dosis vaksin yang telah mereka pesan tetapi tidak dapat lagi digunakan, menyusul kekhawatiran akan faktor keamanannya.

Seperti diketahui, beberapa negara telah membatasi penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca (AZ) dan Johnson & Johnson (J&J) untuk kelompok usia yang lebih muda karena risiko pembekuan darah langka yang sangat kecil.

Denmark telah berhenti menggunakan AZ sama sekali, membuat sejumlah negara berminat membeli vaksin yang tak terpakai itu.

Dengan langkah berani, Republik Ceko menawarkan untuk membeli "semua vaksin AstraZeneca dari Denmark". Estonia, Latvia, dan Lituania juga menyatakan minatnya.

Ada kekhawatiran yang berkembang tentang kasus pembekuan darah yang jarang - dan terkadang fatal -, terutama pada orang yang lebih muda. Tetapi regulator kesehatan di seluruh dunia menunjukkan risiko dari Covid-19 jauh lebih besar.

(Baca juga: Polisi Selidiki Motif dan Rilis Nama Korban Penembakan di Gedung FedEx)

Berdasarkan angka dari regulator obat-obatan Inggris, jika 10 juta orang diberi vaksin AZ, Anda mungkin akan melihat 40 kasus penggumpalan darah itu.

Sekitar 10 orang akan meninggal - peluangnya satu dari sejuta. Angka itu, secara kasar sama dengan risiko orang terbunuh bulan depan - atau jika Anda di mobil dan berkendara sejauh 400 kilometer - meninggal dalam kecelakaan di jalan raya dalam perjalanan itu.

Namun demikian, otoritas kesehatan Denmark membuat keputusan untuk menghentikan penggunaan suntikan AZ.

Denmark mengatakan mereka memiliki vaksin lain yang tersedia, epidemi terkendali di sana dan bertindak secara hati-hati dalam menanggapi "risiko dari efek samping yang parah".

Keputusan tersebut berarti bahwa 2,4 juta dosis AZ yang telah disetujui untuk dibeli Denmark akan ditarik.

Hubungan antara vaksin J&J dan pembekuan darah langka juga sedang diselidiki.

Sampai pemeriksaan keamanan selesai, vaksin ini akan tetap tidak digunakan di AS, yang telah memesan 100 juta dosis.

(Baca juga: Australia Batalkan Tarik Medali Ribuan Veteran Perang)

J&J juga telah ditangguhkan di Afrika Selatan, di mana vaksin itu menjadi pilihan utama, setelah penelitian menunjukkan vaksin itu memberikan perlindungan yang lebih tinggi terhadap varian Covid-19 lokal.

AZ, yang kurang efektif terhadap varian tersebut, tak menjadi pilihan di Afrika Selatan, dan akibatnya membuat vaksin itu tidak digunakan.

Afrika Selatan menjual satu juta dosis AZ untuk didistribusikan di 14 negara tetangga Afrika.

  • Bisakah vaksin ini digunakan di tempat lain?

Secara teori, ya. Negara-negara tertarik untuk menjual atau menyumbangkan vaksin yang tidak lagi mereka butuhkan.

Pada Kamis (15/4), Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, Hans Kluge, mengatakan Denmark mungkin melakukan hal itu.

"Saya memahami bahwa kementerian luar negeri Denmark siap untuk, atau sedang mencari opsi, untuk berbagi vaksin AstraZeneca dengan negara-negara miskin," kata Kluge dalam penjelasan singkatnya.

Beberapa tetangga Denmark menawarkan diri untuk mengambil persediaan vaksin yang tidak diinginkan.

"Kami memiliki stok vaksin yang lebih sedikit vaksin daripada orang yang ingin divaksinasi," kata Perdana Menteri Lithuania Ingrida Simonyte.

"Oleh karena itu, Lithuania telah menyatakan kesiapan untuk menggunakan dosis AstraZeneca sebanyak mungkin, yang siap dibagikan oleh Denmark,” lanjutnya.

Dalam sebuah tweet, Menteri Dalam Negeri Ceko Jan Hamacek mengatakan dia telah menginstruksikan seorang diplomat untuk menyatakan minat negara itu untuk "membeli semua vaksin AstraZeneca dari Denmark".

Tanggapan Denmark belum jelas - pemerintahnya belum memberikan komentar.

Sementara itu vaksin yang tidak terpakai itu akan disimpan di gudang.

Baik vaksin AZ maupun J&J memiliki keunggulan karena dapat disimpan pada suhu lemari es, membuatnya lebih mudah untuk didistribusikan daripada vaksin Pfizer, yang harus disimpan pada suhu -70 derajat.

Meskipun demikian, vaksin memiliki tanggal penggunaan, yang bervariasi tergantung pada pengembang vaksin.

  • Berapa banyak vaksin yang tidak digunakan?

Tidak ada catatan global tentang ini, tetapi data regional memberikan sedikit gambaran.

Denmark, misalnya, telah menerima 202.920 dosis AZ per 15 April, menurut data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDP).

Dari jumlah tersebut, 150.671 dosis telah diberikan, menyisakan 52.249 dosis yang tidak digunakan.

Gambaran serupa terjadi di seluruh Eropa, di mana sejumlah negara telah membatasi vaksin AZ dan J&J untuk orang berusia lanjut.

Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menunjukkan banyak negara bagian mengalami surplus.

Lebih dari 20% vaksin yang dikirim belum diberikan, di negara bagian termasuk Alabama (37%), Alaska (35%), Vermont (27%), dan North Carolina (24%).

Sementara itu West Virginia, yang menggunakan hampir semua vaksin yang diberikan, ada seperempat dosis tidak terpakai - rata-rata 350.000 tersisa setiap hari, menurut Bloomberg.

Pakar kesehatan mengatakan vaksin yang tidak terpakai menunjukkan sejumlah orang yang enggan divaksinasi.

  • Apakah ada skema untuk berbagi vaksin yang tak terpakai?

Ya, ada. Skema itu disebut Covax.

Ini adalah skema internasional yang bertujuan untuk memastikan vaksin dibagikan secara adil di antara semua negara, kaya dan miskin.

Skema ini dipimpin oleh WHO dan melibatkan Aliansi Vaksin Global (Gavi) dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (Cepi).

Pada akhir 2021, Covax berharap dapat memberikan lebih dari dua miliar dosis kepada orang-orang di 190 negara.

Bagian dari skema ini melibatkan pendistribusian kembali vaksin cadangan dari negara kaya ke negara miskin.

Misalnya, Inggris, yang telah memesan sekitar 450 juta dosis, telah berkomitmen untuk menyumbangkan sebagian besar dari "surplus" pasokannya ke negara-negara yang lebih miskin.

Negara-negara kaya lainnya telah menunjukkan solidaritas dengan negara-negara yang lebih miskin.

Namun negara-negara kayak dikritik karena hingga saat ini belum ada yang menjelaskan secara pasti kapan mereka akan menyumbangkan vaksin itu ke negara-negara lain, juga berapa banyak.

Setidaknya untuk saat ini, negara-negara kaya berfokus pada vaksinasi penduduk mereka sendiri, sambil menyediakan dana untuk program Covax.

  • Bagaimana dan kapan vaksin ini dapat dibagikan?

Pastinya, kita belum tahu.

BBC bertanya kepada Gavi apakah ada catatan tentang berapa banyak vaksin cadangan yang telah dijanjikan kepada Covax - berikut tanggapannya:

"Mengingat pasokan yang terbatas, dosis yang disumbangkan dari negara-negara dengan pasokan berlebih dan dialokasikan secara adil melalui Fasilitas Covax akan menjadi bagian penting dari solusi untuk mendapatkan akses yang cepat dan adil secara global. Kami sedang berbicara dengan negara-negara berpendapatan tinggi tentang dosis surplus mereka dan berharap untuk segera mengumumkan kesepakatan kami,” ungkapnya.

Jadi kesepakatan untuk berbagi vaksin cadangan sedang dalam proses. Namun, yang membuat frustrasi banyak orang, belum ada informasi konkret tentang siapa yang mendapatkan apa.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini