BABAD Tanah Jawi adalah terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada tahun 1941.
Di dalam Babad Tanah Jawi itu diceritakan tentang riwayat Sunan Kudus. Ia adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad.
Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Ia lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah.
Baca juga: Kisah Saridin dan Sunan Kudus, Kelapa Berisi Ikan
Ayahnya adalah senopati atau panglima Kerajaan Demak. Ja'far Shadiq menggantikan jabatan ayahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Demak. Melalui posisi senopati itulah, Ja'far Shadiq menyebarkan Islam di wilayah Demak.
Selain menjabat sebagai senopati, ia juga diangkat menjadi imam besar Masjid Agung Demak, serta menjadi qadhi atau hakim di Kerajaan Demak.
Pada waktu Sunan Kudus sebagai senopati kerajaan Demak Bintoro berhasil mengembangkan wilayah kerajaan demak ke arah timur hingga mencapai Madura, dan arah barat hingga Cirebon.
Baca juga: Kisah Putri Kaisar Tiongkok Berlayar ke Cirebon, Jatuh Cinta pada Sunan Gunung Jati
Banyak cerita tentang kesaktiannya. Sebelum perang, ia diberi badong, semacam rompi, oleh Sunan Gunung Jati. Badong itu dibawanya berkeliling arena perang.
Dari badong sakti itu, keluarlah jutaan tikus yang juga sakti. Kalau dipukul maka tikus itu tidak mati, namun mereka semakin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan Majapahit ketakutan sehingga mereka lari tunggang langgang.
Ia juga mempunyai sebuah peti, yang bisa mengeluarkan ribuan tawon. Banyak prajurit Majapahit yang tewas disengat tawon itu. Pada akhirnya, pemimpin pasukan Majapahit, yaitu Adipati Terung menyerah padanya.
Ia meninggalkan Demak karena ingin membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama islam. Ia pergi menuju ke Kudus.
Dahulu kota Kudus masih bernama Tajug. Dalam cerita tutu, dikisahkan, awalnya ada Kyai Telingsing yang mengembangkan kota ini. Telingsing sendiri adalah panggilan sederhana kepada The Ling Sing, seorang Muslim Cina asal Yunnan, Tiongkok.
Ia sudah ada sejak abad ke-15 Masehi dan menjadi cikal bakal Tionghoa muslim di Kudus. Kyai Telingsing seorang ahli seni lukis dari Dinasti Sung yang terkenal dengan motif lukisan Dinasti Sung, juga sebagai pedagang dan mubaligh Islam terkemuka.
Setelah datang ke Kudus untuk menyebarkan Islam, didirikannya sebuah masjid dan pesantren di kampung Nganguk.
Raden Undung yang kemudian bernama Ja’far Thalib atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus adalah salah satu santrinya yang ditunjuk sebagai penggantinya kelak.