Awalnya, Ja’far Shodiq hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil di Tajug. Jamaah itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak. Setelah jamaahnya semakin banyak, kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyabaran agama.
Tempat ibadah itu adalah masjid Menara Kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid ini didirikan pada 956 H yang bertepatan dengan 1549 M.
Kota Tajug mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Kemudian pada akhirnya Ja’far Shodiq sendiri dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga, gaya berdakwahnya sangat toleran pada budaya setempat serta cara penyampaian yang halus. Didekatinya masyarakat dengan memakai simbol-simbol Hindu-Budha seperti yang tampak pada gaya arsitektur Masjid Kudus.
Untuk menarik simpati masyarakat untuk mendatangi masjid guna mendengarkan tabligh akbarnya, ia tambatkan Kebo Gumarang (sapi) di halaman masjid. Masyarakat yang saat itu memeluk agama Hindu pun bersimpati, dan semakin bersimpati selepas mendengarkan ceramahnya mengenai “sapi betina” atau Al-Baqarah.
Pada tahun 1550, Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud, dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.