Bos Perusahaan Susu Korsel Mundur Setelah Klaim Yoghurt Efektif Lawan COVID-19

Antara, · Selasa 04 Mei 2021 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 18 2405471 bos-perusahaan-susu-korsel-mundur-setelah-klaim-yoghurt-efektif-lawan-covid-19-arn3tTYP0Q.jpg Foto: Shutterstock.

SEOUL - Bos dari sebuah perusahaan besar produk susu di Korea Selatan mengundurkan diri pada Selasa (4/5/2021) setelah polisi melakukan penyelidikan atas pernyataan perusahaan itu bahwa minuman yoghurt buatannya efektif dalam melawan virus corona baru.

Pengunduran diri bos perusahaan Namyang Dairy Product Co Ltd, Hong Won-sik, terjadi tiga minggu setelah perusahaan itu mengeluarkan pernyataan tersebut dan kemudian mencabutnya.

BACA JUGA: Korsel Sampaikan Belasungkawa Atas Hilangnya KRI Nanggala-402, Siap Bantu Pencarian

Namun, pencopotan kepala eksekutif perusahaan produk susu itu tetap saja tidak banyak membantu dalam menenangkan reaksi konsumen.

"Saya akan mengundurkan diri dari posisi kepala eksekutif Namyang Dairy untuk bertanggung jawab atas semua ini dan saya tidak akan menyerahkan manajemen kepada anak-anak saya," kata Hong dalam suatu permintaan maaf publik yang disiarkan televisi.

Hong dan anggota keluarganya memiliki saham gabungan sebesar 53,1 persen pada perusahaan susu terbesar ketiga --berdasarkan pendapatan-- di Korea Selatan, menurut pengarsipan peraturan Namyang.

BACA JUGA: Korsel Menentang Keputusan Jepang untuk Buang Air Radioaktif Fukushima ke Laut

Para pejabat di Namyang Dairy belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Polisi Seoul pekan lalu menggerebek kantor pusat perusahaan produk susu tersebut.

Pada sebuah forum yang dihadiri oleh wartawan bulan lalu, perusahaan produk susu itu mengklaim bahwa minuman yoghurt Bulgaris buatannya efektif dalam mencegah COVID-19. Pernyataan tersebut membuat saham perusahaan itu melonjak hampir 30 persen.

Kementerian Keamanan Makanan dan Obat Korea Selatan kemudian mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Namyang tidak memiliki bukti untuk mendukung klaimnya, dan menuduh perusahaan tersebut secara ilegal menyebarkan informasi yang menyesatkan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini