Kasus Covid-19 Terus Meroket, Nepal Digadang-gadang Jadi India Kedua

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 06 Mei 2021 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 18 2406618 kasus-covid-19-terus-meroket-nepal-digadang-gadang-jadi-india-kedua-HacePPUMkm.jpg Kasus Covid-19 terus melonjak di Nepal (Foto: CNN)

KATHMANDU, NEPALNepal digadang-gadang akan menjadi India kedua karena lonjakan kasus Covid-19 yang terus bertambah. Di sini, kasus Covid-19 meroket, rumah sakit kewalahan, dan Perdana Menteri Nepal K.P.Sharma Oli meminta bantuan dari negara lain.

Nepal sekarang melaporkan sekitar 20 kasus Covid-19 setiap hari per 100.000 orang - jumlah yang hampir sama dengan yang dilaporkan India dua minggu lalu.

Menurut angka pemerintah yang dikutip oleh Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), akhir pekan lalu, 44% tes Covid Nepal kembali positif. IFRC juga memperingatkan krisis yang akan datang.

"Apa yang terjadi di India saat ini adalah gambaran mengerikan dari masa depan Nepal jika kita tidak dapat menahan gelombang Covid-19 terbaru yang merenggut lebih banyak nyawa setiap menit," kata ketua Palang Merah Nepal, Dr. Netra Prasad Timsina, dalam sebuah pernyataan.

Penyebaran virus yang cepat telah menimbulkan kekhawatiran jika a Nepal sedang tertatih-tatih di ambang krisis sama dahsyatnya dengan India - jika tidak lebih buruk.

(Baca juga: Disuntik Vaksin Covid-19 asal China yang Belum Disetujui, Presiden Filipina Minta Maaf)

Nepal memiliki sistem kesehatan yang rapuh, dengan lebih sedikit dokter per kapita dibandingkan India, dan tingkat vaksinasi yang lebih rendah daripada tetangganya. Tingkat positif tes yang tinggi di negara itu menunjukkan kasus Covid-19 terus melonjak.

Acara publik massal, termasuk festival, pertemuan politik, dan pernikahan, ditengarai menjadi penyebab virus itu semakin menyebar. Selain itu, rasa puas diri dari masyarakat dan tindakan pemerintah yang lambat semakin menambah banyaknya kasus positif.

"Situasi semakin memburuk dari hari ke hari dan mungkin tidak terkendali di masa depan," terang Dr Samir Adhikari, juru bicara Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal pada Senin (3/5).

Meskipun Nepal telah memperketat perbatasan dan memberlakukan penguncian di wilayah yang paling parah terkena dampaknya - termasuk ibu kota - beberapa ketakutan yang tidak akan cukup untuk menahan virus saat menyebar ke seluruh ibu kota, dan bahkan sampai ke Kamp Pangkalan Everest.

Hanya sebulan yang lalu, negara Himalaya berpenduduk 31 juta orang ini melaporkan sekitar 100 kasus sehari. Sekarang, lebih dari 8.600 kasus tercatat.

(Baca juga: Beruang Terbesar Eropa Ditembak Mati, Pangeran Liechtenstein Jadi Tersangka)

Beberapa orang menyalahkan hal ini pada gelombang kedua yang mengamuk di India yang menyebar ke Nepal. Kedua negara ini memiliki perbatasan darat yang panjang dan terbuka.

Orang Nepal tidak perlu menunjukkan paspor atau KTP mereka untuk memasuki India. Banyak orang Nepal memiliki bisnis di India. Ini artinya lalu lintas orang juga begitu tinggi.

Adhikari mengatakan dalam beberapa pekan terakhir, beberapa orang India telah melarikan diri dari gelombang kedua negara mereka, berharap dapat mengakses perawatan kesehatan di Nepal atau melarikan diri ke negara ketiga.

"Sangat sulit menghentikan semua mobilitas antara kedua negara," tambahnya.

Belakangan ini, Nepal memperketat aturan itu. Menteri Luar Negeri Nepal, Pradeep Kumar Gyawali, warga Nepal sekarang hanya dapat menyeberang dari India di 13 titik dari 35 titik perbatasa.

Menurut Shankar Bahadur Bista, asisten kepala distrik distrik Banke, yang berbatasan dengan India, para pengungsi yang kembali perlu diuji di perbatasan.

Siapapun yang dites negatif bisa pulang - tapi kasus positif harus masuk fasilitas karantina atau rumah sakit.

Namun, Dr Sameer Mani Dixit, seorang ilmuwan penelitian kesehatan masyarakat yang berbasis di Nepal, mengatakan tindakan tersebut terlambat karena virus sudah menyebar di dalam negeri.

  • Pertemuan skala besar

Krisis Nepal dilaporkan mulai meningkat pada awal April lalu, ketika Perdana Menteri K.P.Sharma Oli menyebut satu lagi obat virus corona yang belum terbukti.

Oli mengatakan penyakit itu dapat diobati dengan berkumur dengan daun jambu biji. Dia juga sempat mengatakan jika orang Nepal memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat karena asupan rempah-rempah setiap hari.

April lalu, warga Nepal berkumpul untuk festival keagamaan di rumah dan di seberang perbatasan di India. Di sini umat Nepal bergabung dengan umat Hindu yang mandi di Sungai Gangga untuk Kumbh Mela, salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia.

Menurut pernyataan dari Rumah Sakit Internasional Norvic di Kathmandu, mereka termasuk mantan Raja Nepal Gyanendra Shah dan Ratu Komal Shah, yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 sekembalinya ke Nepal.

Sekitar waktu yang sama, ribuan orang Nepal berkumpul di ibu kota untuk merayakan festival keagamaan besar Pahan Charhe. Yang lainnya berkumpul di Bhaktapur, kota terdekat untuk merayakan Bisket Jatra, meskipun pihak berwenang memerintahkan mereka untuk tidak melakukannya.

Satu plakat yang mendukung acara tersebut berbunyi: "Festival kami lebih berharga daripada nyawa kami bagi kami."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini