Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Yamabushi, Para Pertapa di Pegunungan Jepang yang Kembali ke Alam, Kembali ke Diri Sendiri

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Minggu, 23 Mei 2021 |08:45 WIB
Yamabushi, Para Pertapa di Pegunungan Jepang yang Kembali ke Alam, Kembali ke Diri Sendiri
Ritual Yamabushi di Jepang.(Foto:Getty Image)
A
A
A

HONSHU - Di hutan kuno dengan pepohonan aras yang menjulang tinggi, semua hening kecuali suara kicauan burung-burung yang tak terlihat. Tiba-tiba terdengar suara dentingan lonceng. Dari balik kabut, selusin sosok muncul, berjalan dalam satu barisan.

Dipimpin oleh sosok lelaki Tolkienian dengan janggut abu-abu panjang, mereka tampak seperti hantu, berpakaian serba putih. Mereka adalah Yamabushi: penyembah gunung Jepang.

Selama lebih dari 1.400 tahun, berabad-abad yang lalu sebelum siapa pun berbicara tentang "forest bathing", biksu Yamabushi telah berjalan di pegunungan suci Dewa Sanzan (diterjemahkan sebagai, "Tiga Pegunungan di propinsi Dewa") di Prefektur Yamagata.

Namun, perjalanan mereka bukanlah pendakian yang menyenangkan. Melalui penyatuan dengan alam dan disiplin diri yang ketat, Yamabushi mencari kelahiran kembali secara spiritual.

Yamabushi mencari kelahiran kembali spiritual melalui penyatuan dengan alam dan disiplin diri yang ketat. Yamagata terletak di Tohoku, wilayah paling utara pulau Honshu Jepang.

Baca Juga: Masinis Pergi ke Toilet, Kereta Shinkansen Melaju 150 Km/Jam Tanpa Pengemudi

Sebagian besar Tohoku terisolasi, penuh deretan pegunungan, dan rentan terhadap hujan salju terberat di Jepang. Ini adalah tanah yang digambarkan oleh penyair haiku Matsuo Basho dalam bukunya Narrow Road to the Deep North (1689).

Status sakral atau suci dari ketiga gunung-gunung ini - Gunung Haguro, Gunung Gassan dan Gunung Yudono - berasal dari tahun 593 M ketika Pangeran Hachiko melarikan diri dari ibu kota Jepang, Kyoto setelah pembunuhan ayahnya, Kaisar Sushun.

Pangeran Shotoku, keponakan Kaisar, menyarankan Hachiko untuk melarikan diri ke Gunung Haguro, di mana dikatakan bahwa dia akan bertemu dengan Kannon, Dewi Pengasih.

Pangeran Hachiko membangun kuil di masing-masing dari tiga puncak sehingga para dewa-dewi gunung akan tetap berada di sana, dengan demikian menjamin kedamaian dan kemakmuran wilayah tersebut.

Seiring perkembangannya, Shugendo memasukkan unsur-unsur Shinto, Budha dan Taoisme. Shugendo adalah agama Yamabushi. "Secara historis, Yamabushi hidup di pegunungan yang lebih tinggi di Jepang.

"Mereka menghabiskan waktu sampai bertahun-tahun di pegunungan," jelas Tim Bunting, Pemimpin Proyek Yamabushido dan Asisten Ahli Yamabushi.

"Misalnya, Yamabushi yang melakukan pertapaan menjadi Sokushinbutsu (Buddha Hidup) harus menghabiskan setidaknya 1.000 hari di pegunungan."

Proses mumifikasi diri melibatkan puasa berat dalam waktu yang lama, dan praktik tersebut dilarang lebih dari 100 tahun yang lalu selama era Meiji (1868-1912).

Saat ini, ada sekitar 6.000 Yamabushi di Jepang. Mereka percaya bahwa pelatihan pertapa Shugendo di lingkungan alam pegunungan yang keras dapat membawa pencerahan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement