Share

Kisah Pria di Balik Gerakan Memeluk Pohon untuk Melindungi Lingkungan

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 26 Mei 2021 08:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 18 2415640 kisah-pria-di-balik-gerakan-memeluk-pohon-untuk-melindungi-lingkungan-jI8DHGklR3.jpg Pria di balik gerakan memeluk pohon di India (Foto: Reuters)

INDIA - Sunderlal Bahuguna dikenal sebagai aktivis lingkungan terbaik di India. Dia dikenal di seluruh dunia sebagai pria yang mengajari rakyat India untuk memeluk pohon guna melindungi lingkungan. Tak heran, kepergiannya meningggalkan kesedihan mendalam bagi  para aktivis lingkungan .

Bahuguna diketahui meninggal dunia karena Covid-19 pada Kamis (20/05) di usia 94 tahun.

"Kita melakukan kekerasan terhadap Bumi, kepada alam. Kita sudah menjadi pembantai alam," kata Bahuguna beberapa waktu lalu sebelum meninggal dunia.

Ia adalah salah seorang pemimpin utama dari gerakan Chipko di India utara pada tahun 1970-an. Dalam bahasa Hindi, chipko berarti "memeluk".

Menuruti seruan Bahuguna dan sesama aktivis, Chandi Prasad Bhatt, warga perempuan dan laki-laki di wilayah Himalaya, India, memeluk dan merantai diri di pohon-pohon agar pohon-pohon tersebut tidak ditebang secara liar. Itu adalah simbol kuat yang menyatakan, 'tubuh kita di hadapan pohon'.

Itu juga menjadi gerakan yang mampu menarik perhatian dunia tentang kerusakan akibat krisis lingkungan di wilayah-wilayah pegunungan tertinggi di dunia.

Banjir yang menyebabkan kerusakan besar di Uttarakhand pada tahun 1970 membuat penduduk desa tersadarkan diri. Mereka sadar dengan adanya "kaitan erat antara penggundulan hutan, tanah longsor dan banjir", kata Ramachandra Guha, sejarawan yang membukukan gerakan Chipko.

(Baca juga: Wow, Anjing Pelacak Dapat Mengendus Hampir 90% Orang yang Terkena Covid-19)

Tiga tahun kemudian, Bahuguna dan sesama aktivis memeluk pohon. Para pemuda mengikrarkan sumpah darah untuk melindungi alam.

Tak lama kemudian, penduduk perempuan di Himalaya juga menjadi bagian integral gerakan itu. Mereka memeluk pohon dan mengikatkan rakhi pada pohon.

Rakhi adalah benang merah sebagai simbol yang biasanya diikatkan pada pergelangan tangan saudara laki-laki pada hari raya Hindu, Raksha Bandhan. Mereka juga melewati tanah bersalju untuk mengambil peralatan dari penebang pohon.

 (Baca juga: Pesawat Ryanair Dipaksa Mendarat Mendadak dan Tiba-tiba Menukik, Penumpang: "Kami Mengira Pesawat Akan Jatuh")

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

  • Melibatkan perempuan dan berpuasa

Bahuguna, yang tumbuh besar di Himalaya, memahami betul sebab akibat itu. Ia menulis bahwa deforestasi menyebabkan erosi tanah yang subur dan mendorong penduduk laki-laki berpindah ke kota untuk mencari pekerjaaan.

Kondisi ini membuat perempuan terpaksa "memikul semua tanggung jawab mencari makanan ternak, kayu bakar dan air, ditambah lagi bertani".

Tak mengherankan jika gerakan Chipko menjadi batu loncatan penting dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Selama bertahun-tahun, Bahuguna dengan janggut panjang dan bandana, semakin berpengaruh.

Mahasiswa dan perempuan dalam jumlah besar bergabung dalam gerakannya. Mereka menggelar demonstrasi damai, memeluk pohon, dan berpuasa.

Gerakan tersebut membuahkan hasil. Aksi berpuasa pada tahun 1981 mendorong larangan penebangan pohon komersial di Uttarakahand. Dua tahun kemudian, ia berjalan kaki sepanjang 4.000 km di wilayah Himalaya untuk menarik perhatian atas kerusakan lingkungan.

Pada 1992, dia mencukur jenggotnya dan berpuasa sebagai bentuk protes di waduk Tehri, bendungan tertinggi di India. Ia adalah salah satu warga yang kehilangan rumah keluarga karena pembangunan waduk itu.

Aktivis yang tak mengenal lelah itu tak pernah berhenti memberikan ceramah, mengritik kolusi para pejabat kehutanan dan kontraktor swasta dalam membinasakan hutan.

Ketika mantan Perdana Menteri Indira Gandhi ditanya mengenai gerakan yang digagas Bahuguna, ia mengatakan: "Terus terang, saya tidak tahu semua tujuan dari gerakan itu. Tetapi jika untuk mencegah penebangan pohon, saya mendukung sepenuhnya."

Meskipun waktu berubah, simbolsime dari gerakan Bahuguna tetap lestari. Pada tahun 2017, para aktivis di Mumbai memeluk pohon untuk mempertahankan lebih dari 3.000 pohon dari ancaman penebangan untuk pembangunan fasilitas kereta metro .

Bahuguna adalah sosok pertapa yang karismatik, tabah yang memegang prinsip-prinsip Mahatma Gandhi. Ia tinggal di ashram kecil, mengecam kekerasan dan pada dasarnya tidak berpolitik. Ia meyakini sikap mandiri dan "tidak terlalu mengandalkan perdagangan luar negeri". Ia membenci materialisme.

Menurut dia, untuk mengamankan energi dalam "masyarakat permanen dan tidak berbau kekerasan", India perlu memproduksi biogas dari kotoran manusia, memanen tenaga surya, dan tenaga angin serta tenaga air dari aliran sungai. Tingkatkan kemampuan mesin untuk menekan konsumsi energi.

  • Jiwa aktivisme timbul dari pengalaman

Lahir pada tahun 1927 di Distrik Tehri yang sekarang dikenal sebagai Uttarakhand, Bahuguna tumbuh besar dalam lingkungan yang dikelilingi pohon sal, oak dan pohon fir serta padang rumput yang luas.

Amit Baruah, seorang mantan wartawan BBC, mengingat acara tamasya sekolahnya ketika masih remaja pada tahun 1970-an untuk bertemu dengan Bahuguna di Himalaya dan melihat proyeknya.

Apa yang didapati adalah bukan sosok yang menimbulkan buat konflik atau kontroversi, melainkan orang yang santai, lembut dan berbicara dengan lembut pula. Sosok tersebut telah "sedari awal mengaitkan antara penebangan pohon-pohon dengan pengeringan mata air-mata air di Himalaya".

Dalam perjalanan ke tempat tersebut, Baruah mendapati mata air pegunungan mengering dan warga harus berjalan jauh untuk mencari air. Dikatakannya, ia mengerti jiwa aktivisme Bahuguna timbul dari pengalamannya sendiri.

Bahuguna akan dikenang sebagai seorang manusia Bumi yang menyembahkan seluruh kehidupannya untuk menyelamatkan Bumi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini