Militer Myanmar Kehilangan Sumber Pemasukan, Perusahaan Energi Perancis Hentikan Pembayaran

Agregasi VOA, · Kamis 27 Mei 2021 16:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 27 18 2416285 militer-myanmar-kehilangan-sumber-pemasukan-perusahaan-energi-perancis-hentikan-pembayaran-6TCcxdKnR3.jpg Aksi anti-kudeta militer Myanmar (Foto: Reuters)

YANGON - Militer Myanmar kehilangan sumber pemasukan. Perusahaan minyak Perancis, Total, pada  Rabu (26/5), mengatakan pembayaran tunai untuk perusahaan patungan dengan militer telah dihentikan akibat kekacauan di negara itu.

Total ditekan aktivis prodemokrasi “agar berhenti mendanai junta” sejak kudeta militer pada Februari yang disusul dengan penumpasan brutal terhadap pembangkangan sipil. Lebih dari 800 orang tewas oleh militer, menurut kelompok pemantau dalam negeri.

Total mengatakan keputusan menghentikan pembayaran dibuat dalam pertemuan pemegang saham pada 12 Mei dari Moattama Gas Transportation Company, MGTC, joint-venture yang memiliki jaringan pipa yang menghubungkan lapangan gas Yadana dengan Thailand. Penghentian pembayaran diusulkan Total yang memiliki penyertaan saham 31 persen dalam MGTC. Mitranya dari Amerika, Chevron memiliki 28 persen. Perusahaan Thailand PTTEP memiliki 25 persen sedangkan 15 persen dimiliki BUMN Myanmar, Myanmar Oil and Gas Enterprise.

“Mengingat konteks ketidakstabilan di Myanmar, distribusi tunai kepada para pemegang saham perusahaan itu telah dihentikan” efektif mulai 1 April. Total mengecam kekerasan dan pelecehan HAM di Myanmar” dan akan mematuhi sanksi terhadap junta dari Uni Eropa atau Amerika,” terangnya.

(Baca juga: Kudeta Kedua dalam Setahun, Presiden dan PM Mali Mundur Setelah Ditangkap Junta Militer)

Menurut laporan finansial perusahaan itu, pada 2019, Total membayar sekitar USD230 juta (Rp3,4 triliun) kepada penguasa Myanmar, dan USD176 juta (Rp2,5 triliun) pada 2020 dalam bentuk pajak dan hak produksi.

Harian Perancis Le Monde memerinci keterlibatan Total di MGTC pada awal Mei. “Keuntungan besar dari operasi gas alam itu tidak disalurkan ke pemerintahan Myanmar, tetapi sebagian besar diambil perusahaan yang dikendalikan seluruhnya oleh militer,” lapor Le Monde.

(Baca juga: Satu Keluarga Tewas Akibat Kereta Gantung Jatuh, Anak Ini Hidup Sebatang Kara)

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini