BERLIN - Jerman secara resmi mengakui bahwa mereka melakukan genosida selama pendudukan era kolonial di Namibia dan mengumumkan pemberian dukungan finansial sebagai bentuk penyesalan. Hal itu diumumkan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada Jumat (28/5/2021).
Penjajah Jerman membunuh puluhan ribu orang Herero dan Nama di Namibia dalam pembantaian awal abad ke-20. Maas mengakui pembunuhan itu sebagai genosida.
"Mengingat sejarah dan tanggung jawab moral Jerman, kami akan meminta pengampunan dari Namibia dan keturunan para korban," katanya sebagaimana dilansir BBC.
Maas menambahkan bahwa Jerman akan, dalam "isyarat untuk mengakui penderitaan besar yang ditimpakan pada para korban", mendukung pembangunan Namibia melalui program bernilai lebih dari €1.1 miliar (sekira Rp19,2 triliun).
Perjanjian tersebut dilaporkan akan melihat pendanaan dibayarkan selama 30 tahun melalui pengeluaran untuk infrastruktur, perawatan kesehatan dan program pelatihan yang bermanfaat bagi masyarakat yang terkena dampak.
Seorang juru bicara pemerintah Namibia mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pengakuan Jerman adalah "langkah pertama ke arah yang benar".
BACA JUGA: Ratusan Warga Kota di Jerman Peringati 210 Tahun Raden Saleh
Tetapi beberapa pemimpin tradisional sejauh ini menolak untuk mendukung kesepakatan tersebut dan menyuarakan kritik terhadap paket yang ditawarkan.
Pernyataan pada Jumat itu muncul setelah lima tahun negosiasi dengan Namibia, yang berada di bawah pendudukan Jerman dari tahun 1884 hingga 1915.
Namibia dulu dikenal sebagai Afrika Barat Daya Jerman, dan kekejaman yang dilakukan di sana telah digambarkan oleh para sejarawan sebagai "genosida yang terlupakan" di awal abad ke-20.
PBB mendefinisikan genosida sebagai sejumlah tindakan, termasuk pembunuhan, yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau agama.
Pembunuhan dimulai pada 1904 setelah pemberontakan Herero dan Nama atas penyitaan tanah dan ternak oleh Jerman. Kepala administrasi militer di sana saat itu, Lothar von Trotha, mengeluarkan perintah pemusnahan dan memaksa Herero dan Nama ke gurun.
Siapapun yang ditemukan mencoba untuk kembali ke tanah mereka akan dibunuh atau dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Meskipun tidak ada angka pasti, jumlah korban tewas diperkirakan mencapai puluhan ribu, yang menghancurkan populasi kelompok adat.
Kekejaman telah lama mengganggu hubungan antara Jerman dan Namibia, dengan negosiasi bertahun-tahun antara pemerintah tentang cara mendamaikan warisan genosida.
Pada 2018 Jerman menyerahkan kembali beberapa jenazah manusia yang telah digunakan sebagai bagian dari penelitian yang sekarang didiskreditkan untuk membuktikan superioritas ras orang kulit putih Eropa. Kesepakatan terbaru dilaporkan disetujui selama putaran negosiasi yang diadakan oleh utusan khusus pada pertengahan Mei.
Sebuah deklarasi diharapkan akan ditandatangani oleh menteri luar negeri Jerman di ibu kota Namibia, Windhoek, bulan depan sebelum diratifikasi oleh parlemen masing-masing negara, kata laporan media Jerman.
Presiden Frank-Walter Steinmeier kemudian diharapkan melakukan perjalanan ke negara itu untuk meminta maaf secara resmi.
"Kami sekarang secara resmi akan menyebut peristiwa-peristiwa ini sebagaimana adanya dari perspektif hari ini: genosida," kata Maas dalam pernyataan Jumat.
(Rahman Asmardika)