Share

Perang Yom Kippur, Latar Belakang dan Sejarahnya

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 05 Juni 2021 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 18 2420561 perang-yom-kippur-latar-belakang-dan-sejarahnya-CPFatyJyJO.jpg Perang Yom Kippur (Foto: Bamahane/Defense Ministry Archives)

JAKARTA – Perang Yom Kippur adalah perang yang terjadi antara Mesir dan Suriah yang sepakat menggempur Israel pada 6 Oktober 1973. Hal ini terjadi karena Mesir dan Suriah geram akibat kehilangan wilayahnya.

Serangan itu pun bertepatan dengan hari paling suci di kalender Yahudi yang dikenal dengan nama Yom Kippur. Karena itulah perang ini dicatat dalam sejarah sebagai perang Yom Kippur.

Serangan yang terkoordinasi antara Mesir dan Suriah sempat membuat pasukan keamanan Israel (IDF) terkejut. Pasalnya, pasukan Mesir mendadak masuk dan mulai menggempur Semenanjung Sinai, sedangkan pasukan Suriah berusaha mengusir tentara Israel yang berada di Dataran Tinggi Golan.

Dipersenjatai berbagai peralatan perang dari Uni Soviet, pada awalnya Mesir dan Suriah terlihat akan berhasil mengalahkan Israel. Apalagi kedua negara masih memegang dendam akibat kalah di Perang Enam Hari pada 1967, sehingga faktor itu diduga akan membantu Mesir dan Suriah memenangkan Perang Yom Kippur.

(Baca juga: 5 Juni 1967, Perang Enam Hari Israel Lawan Negara-Negara Arab)

Sebelumnya pada perang Yom Kippur, Soviet memberikan dukungannya kepada Mesir serta Suriah.

Melihat perkembangan perang tersebut, tentara Irak dan Yordania ikut bergabung untuk menggempur Negeri Zionis. Namun setelah beberapa hari terlibat kontak senjata, tentara IDF mulai berhasil memukul mundur tentara Mesir dan Suriah.

Keberhasilan Israel ini tentu saja karena mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat (AS) yang semakin menekan posisi para tentara Mesir hingga mereka terpaksa mundur ke Gurun Sinai. Posisi tentara Mesir yang terkepung oleh tentara IDF membuat keadaan semakin buruk bagi mereka.

(Baca juga: Penyerangan ke Gaza Baru Tahap Awal, Jenderal Israel : Tahap Selanjutnya Akan Terjadi)

Melihat keadaan tentara Mesir yang kekurangan obat dan makanan, Uni Soviet mengancam akan melakukan tindakan apa pun demi menyelamatkan mereka. Mengingat hal tersebut akan semakin memperluas konflik dan menyebabkan tentara mereka terseret akibat tindakan Soviet, militer AS langsung bersiap untuk menghadapi tentara Soviet.

Mendengar AS bersiap, Soviet akhirnya mengurungkan niat mereka untuk menyelamatkan tentara Mesir di Gurun Sinai. Momen ini menjadi faktor yang semakin memperburuk hubungan AS dengan Soviet di era Perang Dingin.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun akhirnya berhasil membuat Israel dan Mesir melakukan gencatan senjata. Walaupun Mesir dipandang gagal dalam Perang Yom Kippur, keberhasilan negara tersebut menggempur Israel di Semenanjung Sinai, membuat nama Presiden Mesir pada saat itu, Anwar Sadat, menjadi harum di Timur Tengah.

Sementara itu perang yang masih berkecamuk pascagencatan senjata antara Israel dan Mesir terbukti sulit untuk Suriah. Kekalahan Suriah di Perang Yom Kippur bahkan membuat negara tersebut semakin kehilangan wilayahnya di tangan Israel.

Suriah melihat kekalahan itu disebabkan oleh Mesir. Bahkan pada 1979, Suriah meminta Mesir untuk dikeluarkan dari Liga Arab. Selain itu, buntut dari Perang Yom Kippur adalah dibunuhnya Sadat pada 6 Oktober 1981 oleh seorang ekstremis, ketika Sadat tengah menghadiri peringatan Perang Yom Kippur di Kairo.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini