Setelah Akun Presiden Ditangguhkan, Nigeria Balas Blokir Twitter

Antara, · Sabtu 05 Juni 2021 18:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 18 2420738 setelah-akun-presiden-ditangguhkan-nigeria-balas-blokir-twitter-8Mb22IctNp.jpg Ilustrasi Twitter (Foto: Reuters)

JAKARTA - Nigeria menangguhkan akses ke Twitter untuk waktu yang tidak terbatas, dua hari setelah platform tersebut memblokir sementara akun Presiden Muhammadu Buhari.

Menteri Informasi Nigeria, Lai Mohammed, mengatakan penangguhan ini karena "penggunaan terus-menerus platform untuk aktivitas yang bisa merusak keberadaan perusahaan Nigeria".

Dikutip Reuters, Sabtu (5/6), pemerintah Nigeria belum menjelaskan lebih lanjut mengenai blokir Twitter ini, namun salah seorang pegawai kementerian tersebut menyatakan "kita lihat saja bagaimana nanti".

Menurut uji coba Reuters di lagos dan Abuja, situs Twitter tidak bisa diakses di negara tersebut sejak Sabtu (5/6) waktu setempat, jika menggunakan layanan dari sejumlah operator seluler.

Sementara itu, Twitter, ketika dikonfirmasi mengenai masalah ini, menyatakan sedang menyelidiki.

Pada Rabu (2/6), Twitter menghapus cuitan Presiden Buhari karena melanggar kebijakan mereka tentang konten kekerasan.

(Baca juga: Lawan Kudeta Militer, Penyair Myanmar Dibunuh)

Sang Presiden mencuit ancaman menghukum kelompok yang dituduh menyerang bangunan pemerintah.

Setelah cuitan tersebut diturunkan Twitter, sesuai dengan kebijakan platform tersebut, akun Presiden Buhari ditangguhkan selama 12 jam.

Menteri Informasi Lai Mohammed pada April lalu marah karena Twitter memilih Ghana, negara tetangga mereka, untuk kantor pertama Twitter di Afrika.

Mohammed berpendapat Twitter terpengaruh pemberitaan yang keliru tentang Nigeria, salah satunya soal laporan tindakan keras terhadap aksi protes tahun lalu.

(Baca juga: Kisah 6 Pasien Covid-19 yang Meninggal karena Ditinggal Dokter dan Perawat)

Demonstran yang pro reformasi polisi di Nigeria menggunakan media sosial untuk menyelenggarakan aksi, menggalang dana dan mengunggah bukti kekerasan yang dilakukan polisi.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini