Kemudian, seorang stand-up comic atau komedian yang menggunakan ponselnya untuk membuat para penontonnya tertawa terpingkal-pingkal di rumah atau fasilitas karantina pemerintah saat menjalani isolasi atau perawatan. Tak lupa, seorang warga Surabaya bernama Ika Dewi Maharani yang menjadi supir ambulans perempuan pertama yang mengantar pasien ke Wisma Atlet.
Selain itu, sebuah kisah luar biasa telah diceritakan Reisa tentang dr Andani Eka Putra, seorang Kepala Penelitian Penyakit Menular dan Diagnostik Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.
Didorong oleh mimpi untuk melihat negara dan rakyatnya aman dari pandemi ini, dr Andani menggunakan tabungan pribadinya sebesar Rp850 juta untuk membangun laboratorium pengujian sampel Covid-19. Dia membuka pintu labnya dan menyediakan pengujian sampel secara gratis.
Hingga akhirnya memasuki bulan keenam sejak program vaksinasi digulirkan, masyarakat Indonesia mengantri di pos dan sentra vaksinasi. Tidak hanya mengantri untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mendampingi lansia, guru, dan tokoh agama divaksinasi. Moda transportasi mobil, bus, ojek online, dan bahkan becak, digunakan untuk mengangkut lansia menemui petugas vaksinasi.
"Beginilah cara orang Indonesia mempersonifikasikan ungkapan, 'no one is safe until everyone is safe' (tidak ada yang aman sampai semua orang aman)," ucap Reisa.
Meski begitu, menurutnya, masyarakat Indonesia adalah salah satu yang beruntung. Sebab lebih dari 90 juta dosis Coronavac dari Sinovac, AstraZeneca dari Covax dan Sinopharm telah mendarat di bandara Soekarno Hatta dan sudah disuntikkan ke lebih dari dua puluh juta orang Indonesia.
Bahkan, berbagai perguruan tinggi berkomitmen mengembangkan Vaksin Merah Putih dalam rangka menguatkan kemandirian. Para ilmuwan dari Lembaga Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran kini tengah berlomba mengembangkan vaksin produksi Indonesia.
"Pandemi mungkin sedikit melemahkan kita, tetapi juga telah menunjukkan resiliensi dan ketangguhan kita. Itulah hikmah dari serangkaian kegiatan komunikasi saya kepada publik sebagai jubir," tuturnya.
Menurut mantan Puteri Indonesia Lingkungan ini, bukan angka dan statistiklah yang paling penting. Melainkan orang-orang serta kisah ketangguhan manusia Indonesia adalah hal yang paling utama.
"Tetap tangguh Indonesia. Salam sehat dari saya," ujar Reisa.
CM
(Yaomi Suhayatmi)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.