Daya Pikat Abadi Kota-Kota yang Hilang

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 28 Juni 2021 06:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 28 18 2431825 daya-pikat-abadi-kota-kota-yang-hilang-Rq6M0JmG77.jpg Daya pikat kota yang hilang (Foto: World Travel Guide)

KAMBOJA - Kisah-kisah reruntuhan misterius telah lama mempesona para pelancong dari jauh, tetapi kisah-kisah itu mungkin menyembunyikan sesuatu yang lebih menarik - dan sama sekali berbeda.

Matahari sore menciptakan bayangan panjang melintasi ratusan permukaan batu yang diukir di kompleks Kuil Bayon saat saya masuk lebih dalam ke kuil abad ke-12 di jantung situs Angkor yang luas di Kamboja.

Ukiran-ukiran wajah yang aneh timbul di menara-menara dan dinding-dinding, masing-masing dengan bibir montok melengkung yang berubah menjadi senyum yang mengerikan.

Ini merupakan hari pertama saya di Angkor, dan saya hanya tahu sedikit tentang sejarah kota ini.

Tapi setelah berjalan dari candi ke candi, dengan mudah saya tergelincir ke dalam lamunan imajinatif.

Dalam benak saya, kerumunan para peziarah membawa sesembahan yang cerah. Pahat-pahat berdentang saat pengrajin menciptakan mahakarya indah di sekitar saya, sementara raja-raja yang megah berparade melalui jalan lebar yang dipenuhi patung-patung.

(Baca juga: Kisah Medlar, Buah Abad Pertengahan dengan Nama 'Vulgar' yang Terlupakan Zaman)

"Untuk setiap alasan bahwa suatu tempat sudah tidak ada lagi, dapat diubah menjadi kota yang ideal, kota impian seseorang," tulis Aude de Tocqueville dalam buku yang ditulisnya pada tahun 2014, Atlas of Lost Cities: A Travel Guide to Abandoned and Forsaken Destinations.

"Dengan begitu, kota yang hilang adalah puisi, dunia mimpi dan sebuah kota tempat hasrat dan jalan kita yang berliku-liku,” terangnya.

Memang, tempat-tempat yang hilang dan ditinggalkan memiliki daya tarik kuat pada imajinasi.

Lokasi itu sangat cocok bagi pelancong bersemangat, menginspirasi rasa petualangan yang memicu ekspedisi besar dan kisah-kisah yang tak masuk akal.

Kita melihat hidup kita tercermin pada batu-batu, bayangkan drama-drama intim kita dengan latar belakang romantis dan keruntuhannya.

(Baca juga: Pria Ini Terjerat Pernikahan Palsu, Rugi Rp3,6 Miliar)

Dan apabila selubung bencana meliputi banyak kota yang hilang, itu pun menjadi lunak dengan berlalunya waktu.

"Barangkali selama ribuan tahun, orang-orang mengisahkan kisah-kisah petualangan tentang tanah dramatis di luar perbatasan kita - kisah-kisah tentang peradaban kuno," kata Annalee Newitz, penulis Four Lost Cities: A Secret History of the Urban Age.

Bukunya menjelajahi benua-benua dan ribuan tahun, menawarkan empat situs kuno sebagai obyek pelajaran dalam kehidupan perkotaan: Angkor di Kamboja, Kota Kosmopolitan penduduk asli Amerika di Cahokia: Pompeii di masa Romawi; dan Neolithic Çatalhöyük di Turki modern sekarang.

Sementara jalinan cerita tentang kota yang hilang membuat kisah perjalanan menarik, Newitz berpendapat bahwa narasi itu terlalu sering mengaburkan kisah nyata di balik tempat-tempat paling indah bagi umat manusia.

Itu yang terjadi di Angkor, tempat saya menghabiskan sore yang cerah di tengah reruntuhan.

Newitz menjelaskan bahwa kota itu benar-benar berpenghuni ketika penjelajah Prancis Henri Mouhot tiba di sana pada tahun 1860 - memang, tempat itu tidak sepenuhnya ditinggalkan - tetapi para pengunjung tidak dapat membayangkan para leluhur bangsa Kamboja mampu menciptakan kemegahan itu.

"Pada pandangan pertama, seseorang dipenuhi kekaguman begitu dalam, dan tidak bisa tidak bertanya apa yang terjadi dengan ras yang begitu kuat, amat beradab, sangat tercerahkan, para penulis karya-karya megah ini?” terangnya.

Mouhot menulis tentang situs hutan yang luas. Dia berspekulasi bahwa Angkor dibangun oleh orang Yunani atau Mesir kuno. Di Prancis, Newitz menjelaskan, kunjungannya dipuji sebagai sebuah "penemuan".

"Cerita tentang kota yang hilang menjadi begitu populer di masa modern ini - dimulai pada abad ke-19 atau ke-18 - karena itu adalah cara yang bagus untuk menyamarkan kolonialisme," ujar Newitz.

"Kisah-kisah ini memungkinkan Anda membenarkan semua jenis serbuan kolonial. Untuk mengatakan 'ini bukan peradaban yang berjalan dengan baik dengan sendirinya. Dan bukti yang kita lihat dari sini adalah bahwa mereka telah jatuh dari kemegahan masa lalu yang sirna secara misterius,” ungkapnya.

Menemukan kota dan peradaban yang hilang merupakan obsesi bagi beberapa penjelajah dan kolonial Eropa.

Kegilaan mereka, di antaranya, didorong pencarian kota yang hilang yang paling terkenal dalam sejarah: Pulau Atlantis, yang pertama muncul dalam tulisan Plato.

Fiksinya tentang Atlantis berkembang pesat sebelum adanya kemunduran moral melahirkan hukuman ilahi.

Orang-orang yang sezaman dengan filsuf itu akan mengenali cerita itu sebagai alegori, kata sejarawan kuno Greg Woolf, penulis The Life and Death of Ancient Cities: A Natural History.

"Menceritakan mitos guna mengilustrasikan sejumlah kebenaran yang lebih besar dipahami secara luas," kata Woolf.

"Saya tidak berpikir bahwa ada orang yang benar-benar percaya [Atlantis] itu ada, tetapi hal itu adalah mitos yang paling nyaman."

Namun, ketika tulisan Plato tentang Atlantis didistribusikan dalam terjemahan modern, dia menemukan ada pembaca yang lebih percaya.

"Orang-orang membaca tulisan ini pada saat yang sama dengan ketika orang-orang mendirikan koloni di Dunia Baru," jelas ahli klasik Edith Hall dalam wawancara baru-baru ini dengan History Extra Podcast BBC.

Banyak yang salah paham dengan karya Plato tersebut, karena mereka membaca kisah alegoris secara harfiah, kata Hall.

"Itu mengacak-acak pikiran mereka. Semua mengatakan kisah itu pasti di Amerika."

Ketika para pemukim Eropa bertemu dengan peradaban pribumi, tulis Newitz, mereka bergulat guna mencari koneksi ke masa lalu yang misterius, acapkali dengan gampang mengabaikan masyarakat kontemporer yang sangat nyata.

Itulah yang terjadi di Cahokia, kota metropolis kuno yang terletak di dekat St. Louis, kota modern di Amerika Serikat.

Gundukan tanah yang menjulang tinggi di sana menyaingi piramida Mesir, dan di puncak Cahokia pada tahun 1050 M, kota ini lebih besar ketimbang Paris. Pendatang baru Eropa akan sulit menerimanya.

"Para pelancong dan petualang akan menceritakan sendiri semua jenis kisah gila, seperti orang Mesir kuno yang datang dan membangun semua ini di sini," kata Newitz.

Itu adalah mitos yang berfungsi untuk membenarkan pencurian tanah-tanah penduduk asli yang secara luas digambarkan sebagai "tanah kosong".

Sementara itu, seperti di Angkor, keturunan para pembangun Cahokia diberhentikan karena dianggap tidak mampu mengerjakan proyek semacam ini.

Kisah kota yang hilang juga dapat menyembunyikan kebenaran lain, tulis Newitz, seperti cara orang kuno menemukan kembali diri mereka sendiri ketika mereka meninggalkan tempat itu. Bencana dan kehancuran sering disajikan sebagai akhir dari cerita, tetapi di Pompeii dan Çatalhöyük, Newitz menemukan secercah awal baru di tengah pergolakan sosial.

Setelah gas vulkanik yang sangat panas mengubah Pompeii menjadi kuburan pada tahun 79M, penduduk Pompeii yang trauma segera mulai membangun kembali kehidupan baru di dekat Napoli dan Cumae.

Mengutip karya klasik Steven Tuck, Newiz menceritakan bahwa banyak pengungsi yang dikenal sejarawan memiliki nama yang menandai mereka sebagai liberti, budak yang dibebaskan.

Sementara konvensi penamaan Romawi seringkali konservatif, dengan tetap menggunakan nama yang sama dari generasi ke generasi,

Tuck mengamati pola yang menarik di antara keluarga pengungsi Pompeii.

Dengan melepaskan nama lama mereka sebagai budak yang dibebaskan, beberapa memilih untuk memanggil anak-anak mereka sesuai dengan tempat mereka yang baru, seperti kota pelabuhan Puteoli yang sibuk.

Di sana, beberapa keluarga yang baru tiba menamai putra mereka Puteolanus.

Ini seperti pindah ke London dari kamp pengungsian dan memanggil anakmu dengan "orang London" jelas Tuck pada saya melalui email.

Dan di kota-kota yang jatuh sendiri itu, Newitz menghadirkan orang-orang yang terbiasa dengan agensi, bukan orang-orang kuno yang mengikuti kemauan sejarah.

Itulah yang mereka lihat di reruntuhan Çatalhöyük, suatu pemukiman Neolitik yang berkembang 9.000 tahun lalu di Konya Plain di Turki Tengah.

Di sana, rumah-rumah dipadatkan seperti sel-sel dalam sarang lebah tulis mereka dalam buku, dengan jalan setapak melewati atap dan pintu masuk menuruni langit-langit.

Di malam yang hangat, akan ditemukan para penduduk berkumpul di atas atap mereka, membuat makanan dan kerajinan bersama.

Tetapi untuk semua perkembangan kreatif kehidupan kota, hal itu merupakan suatu kegiatan dagang.

Seiring waktu, semakin sulit untuk tinggal di Çatalhöyük: iklim menjadi kurang menguntungkan dan ketegangan sosial meningkat.

Sementara banyak cerita tentang kota-kota yang hilang tampak samar dan mistis, Newitz menggambarkan ditinggalkannya tempat-tempat seperti Çatalhöyük sebagai hasil dari proses yang sangat beralasan.

Dengan berjalannya waktu, rakyat Çatalhöyük hanya memilih untuk kembali ke lebih banyak tempat pedesaan, sebuah proses yang akrab bagi penduduk kota mana pun saat ini yang dengan sedih menelusuri daftar real estat yang menyulap kehidupan pedesaan.

"Kami akan pergi mencari tempat yang lebih baik dan mencobanya lagi, mencoba pengalaman baru, mencoba membangun secara berbeda, mencoba hidup secara berbeda," kata Newitz, membangkitkan percakapan yang mungkin terjadi di sekitar perapian Neolitik.

Keluarga-keluarga berangkat satu per satu, sampai akhirnya Çatalhöyük kosong.

Tetapi ketika para penduduk pergi, masing-masing membawa apa yang penting bagi mereka.

Seni, gagasan, budaya material yang terpancar di Konya Plain saat keluarga-keluarga itu membuat kehidupan baru jauh dari pemukiman padat.

Sementara Cahokia dan masih banyak kota lagi yang ditinggalkan, dalam suatu rasa yang penting, kota-kota itu tidak benar-benar lenyap dari kita.

"Kita masih memiliki semua kenangan budaya dari mana kita berasal," kata Newitz. "Ini berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini