Polisi Tangkap 9 Tersangka Pelaku Terorisme, 6 Diantaranya Pelajar

Antara, · Rabu 07 Juli 2021 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 18 2436839 polisi-tangkap-9-tersangka-pelaku-terorisme-6-diantaranya-pelajar-MAs3NLxFS5.jpg Polisi Hong Kong tangkap 9 tersangka pelaku terorisme (Foto: Reuters)

HONG KONG - Polisi Hong Kong pada Selasa (6/7) telah menangkap sembilan orang, termasuk enam siswa sekolah menengah, karena dicurigai melakukan kegiatan terorisme.

Penangkapan kesembilan orang tersebut merupakan yang terbaru di bawah undang-undang (UU) keamanan nasional yang diberlakukan Beijing di kota pusat keuangan itu tahun lalu.

Polisi mengatakan pada konferensi pers bahwa mereka yang ditangkap berusia 15 hingga 39 tahun dan termasuk seorang karyawan universitas tingkat manajemen, seorang guru sekolah menengah, dan seorang tuna karya.

Para petugas kepolisian juga membekukan dana bank sekitar 600.000 dolar Hong Kong (Rp1,1 triliun), serta uang tunai yang mereka yakini terkait dengan dugaan kegiatan teror.

Mereka juga menyita triacetone triperoxide (TATP) di kamar asrama polisi. Kamar tersebut digambarkan sebagai laboratorium peralatan pembuat bom untuk ditempatkan di terowongan lintas pelabuhan, rel kereta api, ruang-ruang pengadilan, dan tempat-tempat sampah.

(Baca juga: Kisah Wanita Asal Surabaya yang Hidup di Kapal, Bersihkan Pantai Norwegia dari Plastik)

TATP telah digunakan dalam serangan oleh sejumlah ekstremis di Israel dan London.

Polisi mengatakan kelompok itu, yang disebut Returning Valiant, telah menyewa kamar hostel selama sekitar satu bulan di distrik perbelanjaan Tsim Sha Tsui yang ramai.

"Orang-orang yang ditangkap itu memiliki pembagian kerja yang baik di antara mereka. Beberapa dari mereka memberikan uang. Beberapa adalah ilmuwan --yang membuat TATP di ruangan itu," kata Inspektur Senior Steve Li kepada wartawan.

(Baca juga: Studi Terbaru: Uji Coba Kerja 4 Hari Seminggu dengan Gaji Sama, Sukses Luar Biasa)

"Satu orang bertanggung jawab atas pengadaan bahan kimia dan bahan lain yang dibutuhkan untuk rencana tersebut, sementara sekelompok kecil orang lainnya membuat bom menggunakan peralatan kimia. Ada juga tim survei dan tim aksi yang bertanggung jawab untuk meletakkan bom," ujarnya.

Li mengatakan para anggota kelompok itu sengaja merekrut siswa sekolah menengah yang berniat meninggalkan Hong Kong untuk selamanya.

Beijing memberlakukan undang-undang keamanan di Hong Kong tahun lalu, yaitu untuk menghukum para pelaku tindakan yang dianggapnya sebagai subversi, pemisahan diri, terorisme, dan kolusi dengan kekuatan asing. Pelanggar UU tersebut diancam dengan hukuman penjara hingga seumur hidup.

Pihak berwenang telah berulang kali mengatakan bahwa undang-undang keamanan itu telah "memulihkan stabilitas."

Kalangan pengkritik, termasuk pemerintah negara-negara Barat, pengacara, dan kelompok hak asasi manusia internasional, mengatakan pihak berwenang menggunakan UU itu untuk menghancurkan kebebasan perbedaan pendapat di Hong Kong. Namun, pernyataan itu ditolak Beijing.

Pemerintah Hong Kong telah mengatakan bahwa kebebasan di kota pusat keuangan global itu dihormati tetapi tidak mutlak dan tidak boleh membahayakan hukum keamanan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini