Hal senada dirasakan Hanna Chyntya (28 tahun), pekerja di sektor esensial ini mengeluhkan penggunaan STRP yang menurutnya ribet dan tidak efisien.
"Aduh ribet, kaya masuk harus dicek-cek surat keterangan dari kantor. Kalau tidak ada mesti mengaupload pembuatan surat STRP di website https://jakevo.jakarta.go.id dan buat surat itunya juga pake surat vaksin. Sedangkan temen aku baru kena, kan bingung dong, mau di vaksin aja butuh tiga bulan lagi. Kalo ga bisa yaudah pulang itu,"jelasnya.
Lain halnya dengan, Gita Dwi Septiani (25 tahun), salah satu pegawai essensial di daerah Sudirman ini turut mendukung pemberlakuan STRP di KAI Commuter ini.
"Malah lebih baik dimana PPKM tetap berjalan, perkantoran pun menjadi lebih disiplin. Kadang ada perusahaan yang gamau rugi, kalau seperti ini jadi ada alasan HRD untuk mematuhi peraturan. Saya pun di jalan merasa lebih enak di kereta jadi lebi sepi dan di transportasi umum jadi lebih terjaga dengan virus-virus ini dan juga jadi tidak terlalu khawatir,"paparnya.
Ia berharap dengan pemberlakuan STRP ini dapat mengurangi resiko penularan covid-19. "Dengan adanya STRP ini orang tidak sembarangan buat berpergian. Kalau ada STRP kan jelas alasannya kerja, darurat,dan kebutuhan. Anak kecil pun tidak bisa naik kereta karena mereka rawan juga penularannya," harapnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.