Akumulasi dari ketidakpuasan yang demikian besar ini meledak berujung pada peristiwa penculikan Perdana Menteri Sutan Syahrir dan pejabat pemerintah lainnya tengah malam yakni tanggal 25 Juni 1946.
Setelah PM Sjahrir beserta rombongannya melakukan kunjungan ke Jawa Timur dan menginap di Solo selama satu malam, karena pada hari berikutnya hendak melakukan perjalanan ke Yogyakarta, untuk sidang kabinet yang membahas masalah usul balasan dan dan masalah kabinet koalisi.( Yuanda 2009: 171).
Rombongan Sutan Syahrir menginap di gedung Javache Bank dekat Gladag, dengan penjagaan dari Polisi Militer.
Upaya penculikan Sjahrir digalang oleh Mayor Abdul K Yusuf, ia mengajak kolonel Sutarto komandan Divisi IV yang kemudian menerima ajakan Yusuf, Karena melihat Yusuf membawa perintah tertulis penangkapan PM Sjahrir dari Mayor Jendral Sudarsono.
Kemudian Sutarto memberi perintah kepada kawannya Sastrolawe, Komandan Batalyon di Tawangmangu, PT Solo dan lainnya untuk menangkap Syahrir.
Penangkapan ini juga mendapatkan persetujuan dari Domopranoto kepala kepolisian Surakarta. Sekitar jam satu malam Yusuf membawa pasukannya langsung masuk ke gedung Javache Bank dan menuju kamar tidur Sutan
Sjahrir, tanpa tekanan dan paksaan Sjahrir dibawa layaknya seseorang yang tidak diculik dikawal beserta rombongannya seperti Darmawan Mangunkusumo menteri kemakmuran dan sekretaris kabinet Mr. Sumitro, kemudian dipaksa oleh Yusuf masuk ke mobil yang telah disediakan kemudian membawanya kepesanggarahan milik Pakoeboewono X yang bernama Pracimoharjo terletak di desa Paras Kecamatan Cepogo kabupaten Boyolali (penuturan Soemohardjo) , jaraknya sekitar 35 Km dari kota Solo.
Mayor Soekarto selaku komandan Batalion di Boyolali menjadi pengawas tahanan ( SI Paradisastra 2004 : 24 ) .
Penculikan sengaja dilakukakan bersamaan Syahrir berada di Surakarta, karena oleh kaum oposisi Surakarta dijadikan basis dalam menggoyang pemerintahan Syahrir di Yogyakarta. (Julianto Ibrahih, 1988 : 48 ).
Di samping iru pula kelompok oposisi memanfaatkan situasi politik yang tidak menentu di Surakarta, ternyata Tan Malaka tidak hanya anti imperialis tetapi anti feodal sehingga tidak mengharapkan keraton Surakarta hidup lebih lama lagi. (Yuanda Zara, 2009 : 168 ).
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.