Ekonomi Hancur Imbas Perang, Warga Yaman Beridul Adha dengan Kurban Ayam

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 21 Juli 2021 12:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 18 2443718 ekonomi-hancur-imbas-perang-warga-yaman-beridul-adha-dengan-kurban-ayam-NMS6YR3JXq.JPG ilustrasi. (Foto: Reuters)

TAEZ – Konflik yang berkobar di Yaman telah membuat negara itu dilanda kesulitan ekonomi yang parah, dengan banyak warganya terancam kelaparan.

Perayaan Idul Adha di Taez, salah satu kota di Yaman juga berlangsung dalam kondisi ini. Warga terpaksa hanya berkurban dengan ayam, karena harga-harga, terutama harga hewan kurban sudah terlalu mahal.

BACA JUGA: Sumur Barhut Sedalam 250 Meter di Yaman Lubang Neraka dan Penjara untuk Setan

Salah satu warga Taez yang berkurban ayam pada Idul Adha kali ini adalah Fadel al-Sbei.

Ayah dari enam anak itu hanya mendapat penghasilan USD2 dolar per hari dengan bekerja sebagai kurir. Upah yang hanya cukup untuk kebituhan sehari-hari itu berarti Fadel tidak mampu membeli kambing, domba, atau unta yang biasanya disembelih dan disajikan pada Hari Raya Idul Adha.

Karenanya, untuk Idul Adha, Fadel menyembelih dua ekor ayam sebagai kurban di halaman rumahnya yang sederhana.

Di Yaman di mana perang besar telah menjerumuskan penduduknya ke dalam apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, banyak warga yang mengalami nasib serupa dengan Fadel.

Banyak warga Yaman hidup dalam kemiskinan ekstrem dan di Taez banyak yang meninggalkan pasar hewan dengan tangan kosong karena harga yang melonjak yang disebabkan anjloknya nilai riyal Yaman di semua area di bawah kendali pemerintah.

BACA JUGA: Kisah Arif, Pemuda Disabilitas yang Beli Hewan Kurban Hasil Memulung

"Situasinya sangat buruk," kata Fadel kepada AFP. “Saya pergi ke pasar untuk membeli hewan kurban dan semuanya terlalu mahal. Saya tidak mampu membeli apapun.

“Domba dan kambing dijual antara 150.000 dan 200.000 riyal (sekira Rp8,7 juta hingga Rp11,6 juta). Saya harus membeli ayam untuk Hari Raya Idul Adha,” keluh Fadel, yang mengatakan harganya hanya 20.000 riyal (sekira Rp1,1 juta), semua yang bisa dia lakukan.

"Bahkan pakaian pun sangat mahal dan saya tidak bisa membelinya. Hidup ini sangat sulit," katanya.

Bulan ini riyal Yaman mencapai level terendah terhadap dolar di daerah-daerah di bawah kendali pemerintah dalam lebih dari tujuh tahun konflik. Di daerah seperti itu, satu dolar setara dengan lebih dari 1.000 riyal.

Taez, yang dikepung sejak 2015, adalah salah satu daerah yang paling parah terkena dampak konflik yang meletus pada 2014. Dikelilingi oleh pegunungan dan rumah bagi sekitar 600.000 orang, kota ini telah dibombardir secara brutal oleh pasukan pemberontak.

"Harganya gila, benar-benar gila," kata warga Taez, Mohammed al-Sharaabi.

"Kami tidak dapat membeli kambing karena harganya antara 150.000 dan 200.000 riyal... Tahun ini sulit untuk membeli hewan kurban karena krisis yang mencekik dan kekuatan dolar dan riyal Saudi.

"Kami dalam keadaan menyedihkan."

Lima juta orang berada di ambang kelaparan, sementara sekitar 50.000 orang di Yaman hidup dalam kondisi seperti kelaparan - pertama kalinya tingkat kelaparan kritis seperti itu tercapai dalam dua tahun, menurut Program Pangan Dunia PBB.

Harga pangan telah melonjak 200 persen dibandingkan dengan tingkat sebelum perang, dengan sekitar 80 persen warga Yaman sekarang bergantung pada bantuan pangan internasional, menurut WFP.

Perang di Yaman dimulai pada 2014, dengan jatuhnya ibu kota Sanaa ke tangan pemberontak Houthi yang menentang pasukan dukungan Arab Saudi yang setia kepada pemerintah. Pemberontak Houthi, yang didukung kini menguasai sebagian besar utara Yaman, termasuk Sanaa.

Konflik telah merenggut puluhan ribu nyawa, menurut organisasi kemanusiaan, dan jutaan orang mengungsi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini