Seni Belajar Sabar dan Tabah dari Jepang, Dimulai dari SD

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 26 Juli 2021 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 26 18 2446026 seni-belajar-sabar-dan-tabah-dari-jepang-dimulai-dari-sd-FTHzlGHLOk.jpg Seni belajar tabah dan sabar dari Jepang (Foto: Alamy)

TOKYO - Hari-hari kerja di Tokyo umumnya dimulai dengan perjalanan melalui sistem kereta bawah tanah tersibuk di dunia. Setiap hari sekitar 20 juta orang naik kereta di ibu kota Jepang itu.

Ini adalah momen yang menegangkan karena para penumpang yang terburu-buru bergegas ke segala arah.

Di peron, semua orang berbaris dalam formasi ketat di samping pintu kereta agar tidak menghalangi penumpang yang turun. Mereka lalu bergegas masuk meski dalam gerakan lambat yang dipaksakan kerumunan.

Mereka yang berdesakan di dalam gerbong menemukan cara bertahan yang hampir mustahil dilakukan: kaki mereka terkadang tidak menyentuh tanah.

Namun, bahkan di kereta yang penuh sesak ini, kepasrahan dan keheningan menguasai orang-orang di dalamnya.

(Baca juga: Pakar Penyakit Menular AS Ingatkan Bahaya Varian Delta yang Terus Melonjak)

Tingkah laku yang tenang dan teratur cenderung menjadi ciri dari kerumunan terbesar di Jepang.

Orang-orang dari luar negeri sering terkejut oleh kesediaan orang untuk menunggu transportasi dengan sabar.

Keterkejutan itu juga muncul saat melihat warga Jepang menanti peluncuran produk tertentu, termasuk bantuan terkait gempa bumi dan tsunami Fukushima yang dahsyat.

Namun upaya yang cukup besar dilakukan untuk mempertahankan tatanan tingkah laku ini. Di Jepang, upaya ini dikenal dengan istilah 'gaman'.

(Baca juga: Krisis Politik di Tunisia, Presiden Saied Pecat Perdana Menteri, Bekukan Parlemen)

  • Bertahan di masa-masa sulit

Sederhananya, ini adalah gagasan bahwa seseorang harus menunjukkan kesabaran dan ketekunan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga atau sulit. Dan oleh karenanya, dia menjaga ikatan sosial yang harmonis.

Konsep ini menyiratkan tingkat pengendalian diri. Anda mengerem perasaan untuk menghindari konfrontasi. Ini adalah tugas yang diharapkan dan dilihat sebagai tanda kedewasaan.

David Slater, profesor ilmu antropologi dan direktur Institut Budaya Perbandingan di Universitas Sophia Tokyo, menggambarkan 'gaman' sebagai seperangkat strategi untuk menghadapi peristiwa yang berada di luar kendali manusia.

"Individu mengembangkan kemampuan dalam diri mereka untuk bertahan dan menerima hal-hal yang tidak terduga, buruk atau sulit untuk dilalui," katanya.

Pada dasarnya, menurut Noriko Odagiri, seorang profesor psikologi klinis di Tokyo International University, orang Jepang menghargai sikap tidak banyak bicara dan menekan perasaan negatif terhadap orang lain.

Upaya menanamkan tingkah laku ini dimulai sejak dini. Anak-anak di Jepang mempelajarinya dengan mencontoh orang tua mereka.

Kesabaran dan ketekunan juga merupakan bagian dari pendidikan, mulai dari sekolah dasar. "Khusus perempuan, kami dididik untuk melakukan 'gaman' sebanyak-banyaknya," kata Odagiri.

'Gaman' dapat bermanifestasi dalam jangka panjang, seperti bertahan dalam pekerjaan yang tidak menyenangkan, menoleransi rekan kerja yang menyebalkan.

Dalam jangka pendek, sikap yang bisa diambil dari ajaran ini adalah mengabaikan penumpang kereta yang berisik atau orang yang tak menghargai antrean.

Yoshie Takabayashi (33 tahun) adalah seorang pengrajin perak di Tokyo sebelum dia menikah, pindah ke Kanazawa dan memiliki anak.

Saat ditanya tentang kapan dia mengaplikasikan 'gaman', Takabayashi merujuk kehidupannya usai melahirkan dan fakta bahwa dia tidak bisa lagi melakukan beberapa hal yang dulu dia nikmati.

Takabayashi juga menyebut orang yang kerap merundungnya di tempat kerja, yang harus dia puji agar mendapatkan pelatihan penting, menghindari masalah, dan mempertahankan pekerjaannya.

"Ketika saya mengingat kembali waktu itu, bos saya bahkan tidak melakukan apa pun untuk membantu,” terangnya.

"Saya seharusnya berhenti. Tetapi orang tua saya, dan semua orang di sekitar saya yang juga baru mulai bekerja, terus mendorong saya untuk menjadi sukses,” lanjutnya.

"Saya tidak menyadari seberapa banyak upaya 'gaman' yang saya lakukan," katanya.

  • 'Mempercantik gaman'

'Gaman' berasal dari ajaran Buddhis tentang memperbaiki diri sendiri sebelum secara bertahap dibentuk menjadi mekanisme ketekunan bagi individu yang mendambakan tempat dalam kelompok sosial.

Tingkah laku ini diasah selama ledakan ekonomi Jepang usai perang ketika upaya 'memajukan negara' berarti mengorbankan waktu bersama keluarga demi pekerjaan berjam-jam di kantor.

Beberapa orang melihat ketekunan gaya 'gaman' sebagai ciri khas Jepang.

"Ini adalah ciri khas orang Jepang, tapi memiliki poin baik dan buruk," kata Nobuo Komiya, kriminolog di Universitas Rissho di Tokyo.

Komiya percaya pengawasan timbal balik, pemantauan diri, dan harapan publik yang terkait dengan 'gaman' merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat kejahatan di Jepang.

Di mana orang saling menjaga dan menghindari konflik, di sanalah setiap orang lebih berhati-hati dengan tindakan mereka.

Tapi ini bukan hanya tentang dinamika kelompok.

"Penting untuk diingat gaman bermanfaat bagi individu," kata Komiya.

"Itu berarti mereka tidak dipecat dari pekerjaan atau bisa mendapatkan keuntungan dari melanjutkan hubungan dengan orang-orang di sekitar mereka,” ungkapnya.

Tapi 'gaman' juga memberikan tekanan pada individu.

"Kami mempercantik 'gaman'," ujar Odagiri.

Banyak orang di Jepang mengharapkan orang lain untuk menebak bagaimana perasaan mereka, daripada mengekspresikan diri mereka secara langsung, dan terkadang tekanan dalam diri dapat meningkat.

"Terlalu banyak 'gaman' berdampak negatif pada kesehatan mental kita," katanya.

"Kadang-kadang ketika orang terlalu banyak berpikiran negatif, 'gaman' bisa berubah menjadi penyakit psikosomatis,” terangnya.

“Meminta bantuan untuk kesehatan mental sering dianggap sebagai kegagalan,” lanjutnya.

Orang-orang diharapkan untuk mengelola diri mereka sendiri. Namun terkadang ini tidak berhasil dan menyebabkan ledakan kemarahan, yang dapat mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga atau di tempat kerja.

'Gaman' juga bisa membuat perempuan terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia.

"Masyarakat kita mengharapkan perempuan untuk rendah hati atau tidak banyak bicara. Jadi terkadang perempuan berusaha untuk tidak mengungkapkan perasaan negatif, hanya 'gaman'," kata Odagiri.

Dan ketika mereka memutuskan untuk bercerai, banyak perempuan yang menemukan fakta bahwa mereka tidak bisa melakukan itu karena mereka telah mengesampingkan karir mereka demi keluarga dan tidak lagi mandiri secara finansial.

Komiya menghubungkan meningkatnya laporan pelecehan seksual baru-baru ini dan intimidasi dengan kehancuran struktur sosial yang memprioritaskan kelompok daripada pribadi.

"Orang Jepang mengatakan 'gaman' adalah kebajikan nasional, tapi sebenarnya itu adalah sarana untuk tetap berada dalam kelompok," kata Odagiri.

Sekarang orang merasa kecil kemungkinannya untuk dikecualikan jika mereka angkat bicara.

Kenapa melakukan 'gaman' pada era gig economy?

Masyarakat memang sedang berubah. Sekitar 30 tahun yang lalu, pekerjaan di Jepang berlaku seumur hidup.

Secara tradisional, laki-laki bekerja berjam-jam untuk mendapatkan senioritas di perusahaan tempat mereka menghabiskan seluruh karir mereka. Adapun perempuan biasanya ditempatkan di pekerjaan jalur non-promosi sebagai persiapan keluar dari karier demi membesarkan anak.

Namun hari ini sistem pekerjaan seumur hidup sedang runtuh. Orang-orang memilih menunda pernikahan, lebih banyak perempuan kini bekerja, dan tingkat kelahiran berada pada tingkat terendah dalam sejarah.

Banyak anak muda bekerja dengan sistem kontrak sementara atau pekerjaan paruh waktu di mana 'gaman' tidak lagi memiliki makna.

"Mereka tidak melihat Anda sebagai anggota kelompok. Anda dipekerjakan dan dipecat, Anda memiliki kontrak, Anda dibayar per jam," kata Slater.

"Seluruh gagasan 'gaman' di Jepang benar-benar tidak adaptif. Anda akan mempertahankan pekerjaan Anda dengan diam, tapi semua nilai 'gaman' yang masuk akal untuk hubungan sosial yang koheren dan tidak lagi relevan,” urainya.

Dan beberapa anak muda memilih untuk tidak menjalankan 'gaman,'. Mereka menghindari jalan yang diambil generasi sebelumnya.

Mami Matsunaga, 39, bekerja di industri media fashion sebelum pindah dari Tokyo ke kawasan dekat pantai. Dia sekarang berselancar setiap hari dan mengajar cara pernapasan serta yoga dalam sesi retret maupun lokakarya di seluruh Jepang.

"Dalam budaya Jepang, harapan untuk 'gaman' memberi tekanan pada semua orang untuk melakukan hal yang sama dan menyisakan sedikit ruang untuk perbedaan," kata Matsunaga.

Ditanya apakah dia pernah bertahan di tempat kerja, dia menjawab: "Tidak, saya tidak melakukannya. Saya segera meninggalkan pekerjaan jika hal seperti itu perlu terjadi."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini