Pada wilayah yang tertutup awan, kata Agung, hotspot tidak dapat terdeteksi. Selain itu, kekeringan dan embusan angin kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.
Lebih lanjut, dia mengatakan citra satelit hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan sebagai titik panas (hotspot).
"Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat kami pastikan," tuturnya.
Baca juga: Frekuensi Bencana Meningkat, Presiden Jokowi Beri Empat Arahan untuk BMKG
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.