Namun Zia merasa terganggu saat memikirkan orang-orang yang ditinggalkan.
Pada 2019, ia meluncurkan Interpreting Freedom Foundation, sebuah badan amal yang dimaksudkan untuk membantu penerjemah dalam proses SIV dan pemukiman kembali di AS.
Dia sekarang menerima telepon-telepon malam dari mantan penerjemah dan keluarga mereka, yang putus asa mencari jalan keluar.
Sebagian besar terjebak dalam proses birokrasi yang kompleks.
Keadaan lebih kompleks karena evakuasi AS hanya dilakukan dari Kabul, yang berarti warga Afghanistan yang tinggal di luar ibu kota harus menghadapi perjalanan yang berpotensi fatal melalui wilayah yang dikuasai Taliban.
Sejak AS mengumumkan penarikan pasukannya pada April, jumlah distrik yang dikuasai Taliban telah meningkat tiga kali lipat dari 72 menjadi 221, menurut Foundation for the Defense of Democracy, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di DC.
Pemerintah AS telah mengatakan ada kemungkinan bahwa pemerintah Afghanistan akan runtuh paling cepat tahun depan.
Beberapa provinsi yang paling berisiko diambil alih oleh Taliban, seperti Kandahar dan Helmand, adalah rumah bagi ribuan tentara AS dan penerjemah lokal mereka, yang sekarang menghadapi ancaman penangkapan atau eksekusi.
“Penerjemah berada dalam bahaya mematikan", ujar pensiunan Kolonel Mike Jason.
"Ini bukan misteri. Penerjemah kami telah dibunuh selama satu dekade lebih,” lanjutnya.
Bukti pernah bekerja dengan militer AS - jenis dokumen yang diperlukan untuk aplikasi visa - merupakan "pengakuan" di mata Taliban, katanya.
"Kita berada pada titik di mana saya tidak tahu bagaimana mereka bisa keluar," katanya.
Departemen Luar Negeri telah berjanji untuk mempercepat proses jika memungkinkan, tetapi tanggapan yang lambat itu telah membuat marah para veteran dan penerjemah.
"Tidak mengherankan bahwa kami akan pergi... ini bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi kepada kami," kata Joe Kassabian, seorang penulis dan veteran tentara AS di Afghanistan.
"Kita seharusnya sudah merencanakan ke depan dan sekarang kita bertindak seolah-olah kita perlu melakukan evakuasi darurat,” ungkapnya.
Bagi Zia, penarikan pasukan AS adalah pengabaian. Dia melihat Afghanistan kembali seperti ketika dia pertama kali melarikan diri sebagai seorang anak.
"Taliban masih membunuh orang yang tidak bersalah," katanya.
"Tidak ada yang berubah,” ujarnya.
Dia berjuang keras untuk memahami bagaimana Amerika mengirim tentara mereka pulang, sementara meninggalkan sekutu mereka.
Dia mencintai negara angkatnya, katanya, tetapi ia berpikir para politisinya telah mengkhianatinya dan orang lain yang mengabdi. "Mereka mencoba untuk mencuci tangan mereka," katanya.
(Susi Susanti)