Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Banten Sebelum Islam, Ibu Kota Kerajaan Kuno Sebelum Pajajaran

Tim Okezone , Jurnalis-Minggu, 08 Agustus 2021 |06:51 WIB
Banten Sebelum Islam, Ibu Kota Kerajaan Kuno Sebelum Pajajaran
Foto: Istimewa
A
A
A

Setelah melalui berbagai metode perbandingan yang cukup rumit, para ahli memperkirakan Banten Girang telah dihuni setidaknya sejak abad ke-10. Kuantitas temuan keramik perlahan semakin banyak dan mencapai puncaknya di abad 13 dan 14. Setidaknya ini menjelaskan tentang kemajuan ekonomi Banten Girang. Banyaknya keramik dari Cina juga memperlihatkan kedekatan khusus Banten Girang dengan Cina yang oleh para ahli diperkirakan tidak hanya berupa hubungan dagang tetapi juga sudah menjadi hubungan kekerabatan.

Asal-usul keramik yang ditemukan di Banten Girang bahkan menunjukkan sumber pembuatan sejak dinasti Tang, Song, dan Yuan.

Uniknya pada perkiraan umur abad 15 terjadi pengurangan jumlah keramik yang sangat drastis. Guillot dan kawan kawan menduga bahwa itu terjadi karena penaklukan Banten Girang oleh Pakuan. Pada masa itu lah mulai terjadi perpindahan bandar-bandar perdagangan ke kawasan lain seperti muara sungai Cisadane, Ciliwung, dan Citarum.

Baca juga: Berikut Daftar Kerajaan di Jateng, Termasuk yang Bangun Candi Prambanan dan Borobudur

Ibu Kota Kerajaan

Sumber-sumber portugis menguatkan dugaan bahwa Banten Girang sebenarnya adalah ibu kota kerajaan tua. Gambaran Diogo Couto yang ditulis di abad ke-18 menjelaskan tentang kota di tengah-tengah teluk yang amat besar, panjangnya empat ratus depa di sisi laut dan lebih panjang lagi di sisi daratan. Di salah satu bagian kota ada benteng dengan tembok bata setebal tujuh jengkal. Bagian atasnya terbuat dari dinding kayu dan bertingkat dua.

Catatan Couto ternyata mampu menjelaskan mengapa sejak abad ke-15, telah menjadi poros pelayaran yang sangat penting. Sumber Cina Shunfeng Xiangsong, tempat ini dinamakan "Wan-tan" dan "shun-t'a" yang menjadi tempat pelayaran dari Aru-Banten, Aceh-Banten, Banten-Banjar, Banten-Demak, dan Banten-Timor.

Sementara itu, sumber Arab di akhir abad 15 yang ditulis Sulaiman al Mahri menjelaskan tentang pelabuhan di dekat "Djebel Sunda" atau Gunung Gende.

Satu hal lagi yang menguatkan kondisi Banten Girang sebagai ibu kota kerajaan adalah adanya jejak Sungai Cibanten sebagai sungai besar yang dulunya bisa dilayari kapal-kapal dagang.

Sebuah peta Banten bertahun 1635 menjelaskan tentang sungai Cibanten lengkap dengan dua jalan penghubung ke ibu kota kerajaan di kiri dan kanannya.

Catatan orang Denmark tahun 1637 memperlihatkan kalau dia masih bisa menggunakan perahu dari Banten menuju Serang. Jalan di sebelah kiri dan kanan sungai Cibanten menurut penduduk sekitar dinamakan "jalan sultan" yang menyusuri sungai menuju tiga gunung api.

Baca juga: Cerita Kerajaan Majapahit: Kalung Anjing pun dari Emas

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement