Tema Lomba Artikel BPIP Dinilai Relevan dan Kontekstual

Fitria Dwi Astuti , Okezone · Minggu 15 Agustus 2021 17:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 15 1 2455938 tema-lomba-artikel-bpip-dinilai-relevan-dan-kontekstual-UBm6IEauc2.jpg Foto: Dok Okezone

JAKARTA- Pengamat publik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo menilai tema lomba penulisan artikel yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sudah relevan. Bahkan, dia menyebut jika tema ini juga kontekstual.

Adapun kedua tema yang dimaksud adalah 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' dan 'Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam'. Menurutnya, pesan yang bisa ditangkap dari dua tema ini adalah memperkokoh nasionalisme.

Tujuannya pun tak lain untuk memperkuat wawasan kebangsaan serta moderasi beragama. Selain dilaksanakan dalam rangka memeringati Hari Santri, momentumnya juga bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-76.

Esensinya, lanjut Karyono, dua tema tersebut menggabungkan antara aspek keagamaan dengan kebangsaan. Penyelenggara lomba dalam hal ini BPIP mungkin ingin mengetahui seberapa luas pandangan peserta dalam memahami relasi agama (Islam) dengan nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika sebagai konsensus nasional.

Namun, menurutnya, dalam konteks lomba penulisan artikel ini, cakupan pembahasan memang dipersempit tentang hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya menurut hukum Islam. Dalam perspektif kebebasan akademik, dia menegaskan jika tidak ada yang salah dari tema itu.

Namun, karena ada unsur politisasi yang masif dan sistematis, Karyono menilai isu ini kemudian menjadi bergeser.

"Saya tidak percaya tema tersebut bermaksud membenturkan agama dengan nasionalisme seperti yang dikatakan Fadli Zon. Pihak yang menyebut tema lomba yang dibuat BPIP membenturkan agama dan nasionalisme justru logika berpikirnya terbalik-balik," katanya.

Pasalnya, menurut Karyono, BPIP justru memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang mempersatukan semua golongan.

"Saya yakin pandangan BPIP justru nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Tugas BPIP juga sangat jelas, sebagai lembaga yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden," ujarnya.

Menurutnya, BPIP juga bertugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila. Kemudian, juga melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan, serta melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan dan pelatihan.

BPIP juga turut menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi negara, kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, organisasi sosial politik, dan komponen masyarakat lainnya.

"Kembali pada polemik tentang tema lomba yang dinilai tidak kontekstual. Hemat saya, tema tersebut justru kontekstual karena realitasnya ada sebagian umat Islam tidak melakukan hormat bendera karena dianggap bid'ah. Masalah ini juga masih menjadi perselisihan para ulama, ada ulama yang melarang secara mutlak dan ada ulama yang memperbolehkan," ucapnya.

Karyono menegaskan agar BPIP tetap bertahan dengan tema tersebut. "Menurut saya, lebih baik BPIP bergeming mempertahankan tema tersebut. Karena dalam perspektif ideologi mereka ini memang berbeda dengan BPIP," tuturnya.

Sementara itu, terkait dengan peringatan kemerdekaan yang akan segera tiba, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Banten Prof Wawan Wahyudi memberikan ucapan selamatnya kepada Indonesia. Dia pun turut mengucapkan selamat atas peringatan Hari Santri 2021.

"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-76 dan juga dalam rangka Selamat Hari Santri 2021. Saya mendukung penuh apa yang digagas dalam BPIP dalam pembuatan artikel. Kita profesional yang memberikan motivasi pada generasi muda dan para santri. Semoga dengan pembiasaan menulis artikel level nasional ini para santri dimana pun berada bisa menciptakan generasi penerus bagi 'Indonesia Tangguh'," ujarnya. (CM)

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini