PBB Serukan Taliban Hentikan Serangan

Agregasi VOA, · Minggu 15 Agustus 2021 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 15 18 2455832 pbb-serukan-taliban-hentikan-serangan-IONfobQj0f.jpg Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (Foto: Reuters)

AFGHANISTAN - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres, pada Jumat (13/8) meminta Taliban untuk segera menghentikan serangan dan beritikad baik bernegosiasi demi Afghanistan dan rakyatnya.

“Pesan masyarakat internasional kepada mereka yang berada di medan perang harus jelas: merebut kekuasaan melalui kekuatan militer adalah proposisi yang kalah,” kata Guterres kepada para wartawan.

“Itu hanya mengakibatkan perang saudara yang berkepanjangan atau isolasi total Afghanistan,” lanjutnya.

Sekjen PBB itu mengatakan situasi di Afghanistan terus memburuk dan semakin tak terkendali, karena Taliban telah merebut sekitar setengah dari 34 ibukota provinsi Afghanistan dan sedang mengincar ibukota Kabul.

“Konflik perkotaan yang terus-menerus berarti pembantaian yang berkelanjutan – warga sipil membayar dengan harga tertinggi,” terangnya.

(Baca juga: CDC Dukung 'Booster' Vaksin Covid-19 bagi Orang dengan Kekebalan Tubuh Lemah)

Dia memperingatkan sekaligus menyerukan semua pihak agar berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil.

PBB menyatakan lebih dari 1.000 warga sipil tewas atau terluka dalam sebulan terakhir dalam serangan membabi buta, terutama di provinsi Helmand, Kandahar dan Herat. Hampir seperempat juta orang lainnya telah mengungsi akibat pertempuran tersebut.

“Hanya penyelesaian dengan negosiasi politik pimpinan Afghanistan yang dapat memastikan perdamaian,” ujarnya.

Dia mendesak diskusi substantif antara perwakilan Taliban dan pemerintah yang telah berlangsung di Doha, Qatar.

(Baca juga: Indonesia Kembali Serukan Dialog antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban)

“Saya juga sangat terganggu dengan indikasi awal ketika Taliban memberlakukan pembatasan ketat terkait hak asasi manusia di wilayah yang mereka kuasai, terutama menarget perempuan dan jurnalis,” ungkapnya.

“Sangat mengerikan dan memilukan atas laporan mengenai hak-hak gadis dan perempuan Afghanistan yang diperoleh dengan susah payah, tapi kemudian (kebebasan itu) direnggut dari mereka,” tandasnya.

Sebelumnya pada Jumat (13/8), Guterres menyampaikan PBB tidak berencana untuk meninggalkan negara itu meskipun situasi keamanan memburuk dengan cepat.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini