IAEA: Korut Mulai Jalankan Kembali Reaktor Nuklirnya

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 30 Agustus 2021 10:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 30 18 2463140 iaea-korut-mulai-jalankan-kembali-reaktor-nuklirnya-CjyCb4PfXx.jpg Foto: Reuters.

WINA – Laporan tahunan badan pengawas atom PBB menyebutkan bahwa Korea Utara tampaknya telah memulai kembali operasi reaktor nuklir, yang secara luas diyakini telah menghasilkan plutonium untuk produksi senjata nuklir.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak memiliki akses ke Korea Utara sejak Pyongyang mengusir inspekturnya pada 2009. Negara itu kemudian melanjutkan program senjata nuklirnya dan segera melanjutkan uji coba nuklir, yang terakhir digelar pada 2017.

BACA JUGA: Korea Utara Cari Penerus Kim Jong-un di Tengah Kekhawatiran soal Isu Kesehatannya

IAEA sekarang memantau Korea Utara dari jauh, sebagian besar melalui citra satelit.

"Tidak ada indikasi operasi reaktor dari awal Desember 2018 hingga awal Juli 2021," kata laporan IAEA tentang reaktor 5 megawatt di Yongbyon, sebuah kompleks nuklir di pusat program nuklir Korea Utara.

"Namun, sejak awal Juli 2021 sudah ada indikasi, antara lain keluarnya air pendingin, sejalan dengan beroperasinya reaktor," lanjut laporan itu sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA: Hacker Berhasil Akses Jaringan Badan Nuklir AS dalam Serangan Siber Masif

IAEA mengeluarkan laporan setiap tahun sebelum pertemuan negara-negara anggotanya, dan mempostingnya secara daring tanpa pengumuman. Laporan terbaru ini dirilis pada Jumat (27/8/2021).

Pada Juni, IAEA mengatakan bahwa ada indikasi di Yongbyon tentang kemungkinan pekerjaan pemrosesan ulang untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar reaktor bekas yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Laporan pada Jumat mengatakan durasi, dari pekerjaan itu, berkisar sekira lima bulan, dari pertengahan Februari hingga awal Juli. Lamanya waktu pekerjaan itu menyarankan bahwa bahan bakar bekas ditangani dalam jumlah penuh, berbeda dengan waktu yang lebih singkat yang dibutuhkan untuk pengolahan atau pemeliharaan limbah.

"Indikasi baru pengoperasian reaktor 5MW(e) dan Laboratorium Radiokimia (pemrosesan ulang) sangat meresahkan," katanya.

Disebutkan dalam laporan itu bahwa ada indikasi "untuk jangka waktu tertentu" bahwa apa yang diduga sebagai pabrik pengayaan uranium di Yongbyon tidak beroperasi. Ada juga indikasi kegiatan penambangan dan konsentrasi di tambang dan pabrik uranium di Pyongsan, tambah laporan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini