Share

Junta Militer Myanmar Bebaskan Biksu Budha Pembenci Muslim, Ashin Wirathu

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 07 September 2021 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 18 2467365 junta-militer-myanmar-bebaskan-biksu-budha-pembenci-muslim-ashin-wirathu-0hPGO2HB4G.jpg Biksu Ashin Wirathu. (Foto: Reuters)

YANGON - Junta militer Myanmar telah membebaskan biksu Buddha kontroversial Ashin Wirathu, yang dikenal karena pernyataan-pernyataan anti-Muslimnya. Wirathu sebelumnya didakwa melakukan penghasutan terhadap pemerintah sipil, yang sejak itu telah digulingkan dalam kudeta militer Februari.

Biksu provokator itu juga dikenal dengan pandangannya yang pro-militer.

BACA JUGA: Ashin Wirathu, Biksu Radikal Dalang Penyiksaan Rohingya 

Dalam beberapa tahun terakhir Wirathu muncul di demonstrasi pro-militer yang menyampaikan pidato nasionalis dan mengkritik pemimpin saat itu Aung San Suu Kyi dan pemerintah Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Pada 2019 ia didakwa menghasut "kebencian dan penghinaan" terhadap pemerintah sipil.

Wirathu kemudian melarikan diri, sebelum menyerah kepada pihak berwenang pada November tahun lalu. Dia telah menunggu persidangan sejak saat itu.

Pada Senin (6/9/2021) pemerintah militer mengatakan bahwa semua tuduhan terhadapnya telah dibatalkan, tetapi tidak memberikan alasan apapun.

Ditambahkan bahwa Wirathu sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit militer. Namun, kondisi kesehatan Wirathu belum diketahui.

BACA JUGA: Deretan Fakta Tentang SKUAD 969, Gerakan Buddha Radikal Biang Kerok Konflik Myanmar 

Wirathu telah dituduh memicu kekerasan terhadap Muslim dan Rohingya di Myanmar, dan merupakan salah satu wajah paling menonjol dari gerakan 969 - sebuah gerakan nasionalis Buddha yang menyerukan umat Buddha untuk berbelanja, menjual properti, dan menikah dalam agama mereka sendiri.

Dia bahkan dijuluki "Buddhist Bin Laden", mengikuti pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, karena pidato-pidatonya yang menargetkan Muslim, khususnya Rohingya

Pada puncak popularitasnya, ia memiliki puluhan ribu pengikut online yang menonton khotbahnya di media sosial atau menghadiri rapat umum.

Dia menjadi sorotan publik karena pidatonya pada 2012, ketika kekerasan mematikan pecah di negara bagian Rakhine antara Muslim, terutama Rohingya, dan Buddha.

Tahun berikutnya, majalah Time menempatkannya di sampul depan mereka dengan tajuk utama: "Wajah Teror Buddhis?"

Pada 2017 ia dilarang berkhotbah selama satu tahun oleh otoritas Buddha tertinggi Myanmar, dan pada 2018, Facebook menghapus halamannya karena pidato kebencian.

Myanmar, negara berpenduduk sekitar 54 juta, memiliki agama Buddha sebagai agama utamanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini