Dokter Campur Sperma di Makanan Istri Temannya Sering Mengintip saat Mandi

Agregasi Solopos, · Senin 13 September 2021 10:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 512 2470412 dokter-campur-sperma-di-makanan-istri-temannya-sering-mengintip-saat-mandi-0C9U7lWGvk.jpg Ilustrasi (Foto: Freepik)

SEMARANG - Seorang dokter dilaporkan ke Komnas Perempuan. Ia diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang wanita dengan mencampurkan sperma ke makanan. 

Bukan hanya itu, dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di universitas di Semarang itu juga sering mengintip korbannya saat sedang mandi. Korbannya tak lain adalah istri dari temannya sendiri.

Baca Juga: Dokter di Semarang Diduga Campurkan Sperma ke Makanan Istri Teman Usai Masturbasi

Pendamping korban dari Legal Resource Center untuk Keadlian Jender dan HAM (LRCKJHAM), Nia Lishayati, mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi saat korban bersama suaminya, tinggal dalam satu rumah kontrakan bersama pelaku. Kecurigaan bermula, saat tudung saji berpindah posisi, yang awalnya dikira binatang tikus atau kucing.

Lantaran masih curiga karena merasa yakin tidak ada hewan tersebut, korban memasang rekaman video melalui gawai. Di situ terkuak, pelaku kerap mengintip korban saat sedang mandi sambil masturbasi. Tak sampai di situ, pelaku juga tertangkap kamera meletakkan sperma miliknya ke dalam makanan yang disiapkan korban untuk sang suami.

“Bisa dibayangkan korban dan suami, dalam jangka waktu yang lama memakan makanan yang tercampur dengan sperma. Hal ini membuat korban trauma dan merasa tertekan,” tuturnya dikutip Solopos, Senin (13/9/2021).

Baca Juga: 5 Hal Mengerikan jika Terjadi Tsunami Dahsyat 28 Meter di Pacitan

Menurutnya, pelaku sebenarnya sudah memiliki anak dan istri. Namun, tidak dibawa ke Semarang. Adapun alasan pelaku tinggal di kontrakan korban dengan alasan untuk menghemat, padahal korban awalnya sudah menolak.

“Pelaku juga sudah bekerja sebagai dokter dan memiliki klinik di luar Semarang,” tuturnya.

Korban pun memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke Komnas Perempuan, yang merekomendasikan ke LRCKJHAM pada Desember 2020.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini