Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan

Solichan Arif , Jurnalis-Senin, 20 September 2021 |06:15 WIB
 Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan
Jenderal Soedirman (foto: istimewa)
A
A
A

Kolonel Zulkifli Lubis yang kelak menjadi Kepala Badan Intelijen (BIN) pertama Republik Indonesia mengatakan, Soeprijadi sangat benci Jepang. Soeprijadi memiliki pribadi eksentrik, suka memendam pikiran, tapi memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Sosoknya penyendiri serta gemar menyamakan diri dengan Pangeran Diponegoro. Ketidaksukaan Soeprijadi terhadap Jepang, kata Zulkifli sempat terucap saat keduanya sama-sama mengikuti pendidikan perwira PETA di Bogor, Jawa Barat.

"Ketika kami berada di Bogor, ia sering mengatakan, kita tidak dapat mempercayai Jepang," kata Zulkifli Lubis seperti ditulis David Jenkins dalam "Soeharto di Bawah Militerisme Jepang". Zulkifli dan Soeprijadi merupakan angkatan pertama yang mengikuti pendidikan perwira PETA di Bogor. Sedangkan Sudirman angkatan kedua. Pada pertengahan tahun 1944, Bogor telah berubah menjadi kota militer.

Bersama keduanya ada Daan Mogot dan Suharto yang di kemudian hari menjadi Presiden RI ke-2. Zulkifli dan Soeprijadi juga sempat mengikuti pelatihan Beppan di Tangerang. Yakni dinas intelijen khusus tentara ke-16 AD Jepang. Paska peristiwa Blitar, Jepang mengambil langkah bersih-bersih korps perwira PETA.

Bukan hanya di Blitar. Pembersihan juga berlangsung di tempat-tempat lain. Saat itu awal April 1945. Di depan Budanco (Pemimpin Regu) PETA Cilacap Kusaeri, kemudian Suwab, Wasirun, Hadi, Mardiyono, Sarjono, Udi, Tawan dan Sujud, Sudirman mengatakan, tidak ingin terjadi kegagalan yang kedua kali. Salah satu faktor kegagalan pemberontakan di Blitar, kata Sudirman adalah karena belum cukup kuat.

Baca juga:  Jenderal Soedirman Pernah Cedera saat Main Sepakbola, Khawatir Tidak Diterima Jadi Tentara

Bagi Sudirman, lebih baik methingil menjadi methongol, daripada tahu-tahu ngedhangkrang, tetapi ngglempang (Lebih baik kecil berkecambah, lalu tumbuh menjadi besar, daripada mencapai kedudukan tidak melalui jalan wajar tetapi akhirnya terguling). "Saya harap adik-adik tidak akan kehilangan tongkat dua kali," kata Sudirman seperti diriwayatkan Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman".

Upaya Sudirman mencegah pemberontakan PETA di Cilacap, gagal. Tiga bulan paska pemberontakan Blitar atau 21 April 1945. Dua ratusan prajurit PETA Cilacap yang dipimpin Budanco Kusaeri, menyerbu gudang senjata Jepang. Dengan senjata lengkap, pasukan bergerak menuju Gunung Srandil. Baku tembak tidak terelakkan. Agar tidak berlarut-larut, Jepang memerintahkan Daidancho Kroya Sudirman mendekati para pemberontak.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement