Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan

Solichan Arif , Jurnalis-Senin, 20 September 2021 |06:15 WIB
 Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan
Jenderal Soedirman (foto: istimewa)
A
A
A

Langkah Jepang tepat. Seruan Sudirman untuk menghentikan baku tembak, terbukti lebih didengar. Namun Jepang ingkar janji. Pada 25 April 1945, Kusaeri ditangkap di Adipala. Setelah menjalani pemeriksaan marathon dua minggu di Cilacap, pada 10 Mei 1945, pimpinan pemberontak tersebut dibawa ke Jakarta. Kusaeri ternyata tetap dijatuhi hukuman mati. Begitu juga 18 rekannya termasuk Kiai Bujel. Divonis hukuman seumur hidup dan 15 tahun penjara.

Peristiwa pemberontakan PETA Cilacap bak api dalam sekam. Situasi yang panas tersebut sewaktu - waktu siap terbakar. Sejak insiden PETA Cilacap Jepang menjadi tahu. Pengaruh dan wibawa Daidancho Sudirman di kalangan prajurit PETA, begitu besar. Bagi kekuasaan Jepang, hal itu dianggap membahayakan. Pada 14 Agustus 1945, Jepang bertekuk lutut pada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak.

17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Di Karsidenan Banyumas, Sudirman mengumpulkan empat Daidan atau batalyon PETA di asrama Purwokerto. Selama tiga hari, Sudirman memberi wejangan seputar proklamasi serta perkembangan politik. Tekad, tali persaudaraan, serta tenaga, dipersatukan sekaligus siaga menghadapi segala kemungkinan.

Baca juga:  Kisah Jenderal Soedirman di Masa Kecil: Suka Mendengar Cerita Pahlawan

"Para bekas Cudancho Shodanco disebar ke tujuh puluh dua kecamatan dalam karsidenan Banyumas. Mereka ditugaskan membentuk dan menyusun kekuatan bekas tentara PETA, Heiho dan KNIL di tiap kecamatan, paling sedikit satu regu," tulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman". Di awal proklamasi kemerdekaan, pasukan bentukan Sudirman di Karsidenan Banyumas berhasil menyita amunisi Jepang dalam jumlah besar.

Sebanyak 5.000 pucuk senapan, 700 pucuk pistol, 500 pucuk sten atau pm, 150 pucuk senapan mesin ringan, 80 pucuk senapan mesin M23, 4 pucuk senapan mesin berat, 2 pucuk meriam lapangan, meriam gunung, dan meriam pantai. Kemudian juga 4 gudang peluru, 1 gudang zeni, 1 gudang alat-alat perhubungan, 13 unit kendaraan sedan, 60 unit truk, 4 bren-carrier, dan juga peralatan kecil, seperti teropong, pedang dan sepeda motor.

Semua rampasan perang tersebut langsung dilaporkan ke atasan. Seperti diriwayatkan Soekanto S.A. Saat itu Sudirman yang kemudian berpangkat kolonel sekaligus diangkat Komandan Divisi V mengatakan," kita dapat menyusun satu resimen pasukan tempur". Sementara seiring proklamasi kemerdekaan, reformasi di tubuh tentara terus dilakukan. Pada 22 Agustus 1945, Badan Keamanan Rakyat (BKR) didirikan.

Menyusul berdirinya Tentara Keamanan Rakyat sebagai pengganti BKR, pada 5 Oktober 1945, Pemerintahan Soekarno mengangkat Muhammad Suljoadikusumo Ad Interim Soeprijadi pemimpin tertinggi. Kemudian juga mengangkat Urip Sumohardjo sebagai Kepala Staf Umum. Peristiwa sejarah itu berlangsung pada 20 Oktober 1945

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement