Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan

Solichan Arif , Jurnalis-Senin, 20 September 2021 |06:15 WIB
 Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan
Jenderal Soedirman (foto: istimewa)
A
A
A

Letnan Heru yang mengenakan mantel hijau Sudirman, juga ditandu. Sementara Kapten Tjokropranolo menggendong Sudirman masuk ke hutan, meninggalkan Desa Karangnangka menuju Desa Goliman, lereng Wilis. Dari Goliman bergeser ke Desa Bajulan. Sudirman bersembunyi di rumah Pak Kedah, warga setempat. Saat hendak berbaring di atas dipan kayu, Sudirman melihat tulisan "Tawang gapura ning ngesti tunggal".

Tulisan itu terukir di atas pintu. "Jendral Sudirman tersenyum. Arti kata-kata itu : Tangan terbuka bagai langit mendengarkan permohonan kita," tulis Soekanto S.A dalam Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman. Selama bergerilya di wilayah Kediri dan Nganjuk, koordinasi dengan pasukan yang berpencar di daerah lain terus terjalin. Karena di Bajulan sudah tidak aman, rombongan Sudirman menuju ke Desa Salamjudeg.

Dari Salamjudeg bergerak ke Desa Ngliman. Pada 8 Januari 1949, rombongan melanjutkan long march ke Desa Seran. Karena medan berat, ditambah kondisi kesehatan yang buruk, Kapten Tjokropranolo beberapa kali memapah dan menggendong Sudirman. Pada 11 Januari 1949, rombongan tiba di Desa Banyutawa, Ponorogo.

Di rumah Pak Ngali, warga setempat, Sudirman bertemu Menteri Supeno dan Menteri Susanto. Perundingan terbatas langsung dilakukan. Lima hari di Banyutawa, Sudirman kembali masuk ke hutan karena Belanda terus melakukan patroli di Ponorogo. Karena dikira Sudirman, Bupati Ponorogo yang ditandu saat mengungsi, sempat ditangkap Belanda.

Dari Ponorogo, Sudirman yang hanya dikawal 10 orang menuju Trenggalek yang saat itu masih dikuasai republik. Pada 4 Februari 1949. Dari Dongko dan Panggul, wilayah Trenggalek, Sudirman menuju Desa Nogosari, Kabupaten Pacitan. Beberapa orang dikirim ke Yogyakarta. Selain untuk menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono IX, mereka juga mencari obat-obatan.

Kecuali Dr Suwondo dan Kapten Tjokropranolo yang berhasil lolos, semuanya tertangkap Belanda. Sejak saat itu nama samaran Sudirman diubah. "Mulai hari itu nama Pak Dirman yang selalu disebut Pak Dhe diganti menjadi Abdullah Lelanaputra," kata Soekanto S.A. Di Dukuh Sobo, Desa Pakis, Kecamatan Nawangan, Pacitan, Sudirman bermarkas.

Sejak 18 Februari 1949. Di wilayah pegunungan dan banyak dikelilingi jurang tersebut, Sudirman bertahan selama sebulan. Didahului datangnya satu kompi tentara utusan Kolonel Gatot Subroto. Pada 17 Maret 1949, Sudirman meninggalkan Pacitan, menuju Surakarta. Sudirman mengenakan destar wulung, ungu, dab dilapis mantel hijau. Di dadanya terselip keris pusaka.

Saat itu Divisi I-IV di Jawa berhasil berkonsolidasi dan pemerintahan militer berjalan teratur. Sehingga TNI bisa mengambil inisiatif serangan ke kota, pos-pos Belanda serta memperhebat penghadangan di seluruh Jawa. Bagi Sudirman, jalan perundingan yang mengikat yang sejatinya merugikan republik Indonesia.

Di saat Indonesia taat pada perundingan gencatan senjata, Belanda justru melancarkan serangannya. Sebuah nota rahasia disampaikan kepada pemimpin golongan-golongan dalam masyarakat untuk menggalang persatuan agar perang semesta atau perang total dapat diwujudkan.

Bagi Sudirman, kalau ingin menang dalam perjuangan suci harus kuat. Untuk kuat segala perselisihan harus diberantas, dan semua golongan dari macam ideologi harus bersatu dalam sikap dan tindakan. Saat itu 7 Mei 1949. Di bawah pengawasan PBB, persiapan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, dilangsungkan.

Pada 6 Juli 1949, Komisi PBB yang terbang ke Bangka, membawa kembali Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Ibukota Yogyakarta. Sementara Sudirman masih di medan tempur gerilya. Pengalaman Belanda yang selalu ingkar janji, membuat Sudirman tidak sepakat dengan gencatan senjata.

Sepucuk surat yang menyentuh hati dari Kolonel Gatot Subroto, memohon Panglima Besar Sudirman untuk kembali ke ibukota Yogyakarta. Sudirman berada dalam situasi dilema. Satu sisi harus taat kepada Presiden Soekarno selaku panglima tertinggi. Di sisi lain ia berat hati meninggalkan pasukannya yang bertahan di medan gerilya.

Dengan ditandu Sudirman akhirnya memutuskan kembali ke Ibukota Yogyakarta. Tiba di Wonosari, perbatasan Yogyakarta-Surakarta, ia minta diturunkan dari tandu. "Terguguk-guguk Panglima Besar Sudirman menangis. Berat sekali hatinya harus meninggalkan anak buahnya yang masih terus berjuang di medan gerilya," tulis Soekanto. S.A.

Tidak berselang lama dari perayaan ulang tahun TNI yang ke-4, Panglima Besar Sudirman kembali jatuh sakit. Pak Dirman memilih dirawat di rumah peristirahatan tentara di Taman Badakan, Magelang. Pada hari-hari perawatan, Sudirman lebih banyak berbicara dengan istrinya. Dalam renungan hidupnya Pak Dirman mengatakan merasa bahagia.

Bahagia karena sepanjang hidupnya Tuhan senantiasa memberi jalan sederhana, dekat dengan alam, dengan anak-anak, dengan rakyat yang sederhana. Pada 29 Januari 1950. Panglima Besar yang lahir 24 Januari 1916 di Purbalingga Jawa Tengah tersebut, tutup usia. Namun sumpahnya," lebih baik hancur bersama-sama debunya kemerdekaan, daripada hidup subur dalam alam penjajahan, akan terus dikenang".

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement